Bagaimana Cara Memberikan Kritik yang Baik?

Belakangan ini Indonesia sedang dihebohkan dengan berbagai kritik pedas ke pemerintah, seperti kasus Bima dengan kritiknya ke pemerintah Provinsi Lampung, dan juga kasus Prof. Zainal Muttaqin dengan kritiknya ke Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Dengan gaya kritik yang ceplas-ceplos ala Bima, akhirnya pemerintah Lampung bergerak untuk membenahi jalanan di Provinsi Lampung yang rusak. Sayangnya, kritik yang dilontarkan oleh Prof Zainal kemudian dikaitkan dengan kabar pemberhentiannya sebagai dokter di RSUP Kariadi.

Mengapa Memberi Kritik yang Baik itu Penting?

Melontarkan kritik adalah suatu bentuk kebebasan berpendapat, dan kritik juga merupakan suatu aspek yang penting di dalam sebuah negara demokrasi. Tidak hanya itu, di tempat kita bekerja pun, kritik kepada atasan/manager/boss bisa menjadi sebuah aspek yang penting terhadap perkembangan pekerjaan kita.

Kritik yang baik dapat membantu atasan/manager/boss/pimpinan mengenali apa yang berhasil, apa yang dirasakan, dan perubahan apa yang mungkin bermanfaat di masa depan. Dengan kritik yang konstruktif, kita bisa membantu tempat kita bekerja untuk menjadi lebih baik, yang juga akan berdampak kepada kita.

Beberapa manfaat kritik antara lain:

  • Dapat memperjelas masalah yang mungkin tidak disadari oleh atasan/manager/boss/pimpinan
  • Mendorong budaya umpan balik dan komunikasi baik antara atasan/manager/boss/pimpinan dan karyawan
  • Menciptakan lapangan permainan yang setara untuk semua orang di perusahaan
  • Membuat semua orang bertanggung jawab atas tindakan mereka
  • Menumbuhkan hubungan otentik antara manajer dan anggota tim
  • Beri anggota tim ruang yang aman untuk terbuka dan jujur dengan manajer mereka
Baca juga  Tips Menulis Publikasi untuk Mahasiswa S1 Kedokteran

Namun, melontarkan kritik yang baik tidak sama dengan berkomentar. Ada tata cara bagaimana seseorang bisa memberikan kritiknya dengan baik, dan ini merupakan soft skill yang bermanfaat untuk siapa pun dan di mana pun.

Dengan melontarkan kritik yang baik, secara tidak langsung kita juga menunjukkan kualitas diri kita yang baik.

Makanya, mari kita belajar cara mengkritik ke atasan/boss/manager yang “baik” supaya kita tidak “dipecat”:

Tips Memberikan Kritik yang Baik kepada Atasan/Boss/Manager/Pimpinan

Kenali waktu dan tempat yang proper

Aturan yang paling mendasar adalah hindari memberi kritik di depan umum. Sebab cara ini akan menyakiti siapapun yang diberi kritik, baik itu atasan/boss/pimpinan/manager atau pun teman sendiri.

Kita harus dapat mengenali waktu dan tempat yang proper untuk menyampaikan kritik. Umumnya, kritik ke pada atasan/boss/pimpinan sebaiknya dilontarkan secara langsung, one-on-one, atau melalui jalur yang ditentukan. Hindari memberikan kritik di publik atau melalui pihak ketika. Sebab kita masih bekerja di dalam lingkungan tersebut dan terikat aturan di tempat kita bekerja.

Jika kita ingin mengkritik dengan bebas, yakinkan bahwa kita tidak berada dalam lingkungan dan peraturan yang sama dengan yang dikritik. Seperti Bima yang mengkritik pemerintah Provinsi Lampung, ketika dirinya tinggal di Australia dengan peraturan pemerintah Australia.

Gunakan bahasa dan tone yang baik

Jika bahasa yang digunakan terdengar melecehkan, mencemarkan nama baik, menghasut, dan menghina, itu namanya bukan kritik.

Meskipun melontarkan kritik bisa membuat emosi kita naik, tapi kita harus bisa menjaga ke-netral-an kita ketika menyampaikan kritik. Sebab kritik yang tidak netral sama dengan komentar.

Fokus pada permasalahan, bukan pada subyek

Kritik dapat berubah menjadi pencemaran nama baik, menghina, dan semacamnya ketika kita berfokus pada subyeknya.

Baca juga  Bagaimana cara membuat meta-analisis?

Misalnya, ketika kita tidak setuju dengan jadwal jaga yang tidak adil yang dibuat oleh kepala IGD tempat kita bekerja. Akan sangat mudah mengkritik bahwa kepala IGD kita “pilih kasih”. Padahal “pilih kasih” tidak berfokus pada masalahnya.

Untuk itu, sebelum mengkritik, ada baiknya kita memasukkan data-data dan fakta permasalahan yang aktual di lapangan. Selain memperkuat argumentasi kita, kita juga jadi tidak terfokus pada subyeknya.

Selain itu, hindari membuat asumsi ketika memberikan kritik. Misalnya, kita berasumsi bahwa kepala IGD tidak adil karena beliau tidak punya pengalaman jadi pemimpin, padahal kita tidak tahu kenyataannya. Dan asumsi ini justru akan menyerang personal, bukan pada permasalahannya.

Dalam mengutarakan kritik, berfokus lah pada perbaikan di masa depan. Dan pastikan kritikan yang kita berikan adalah sesuatu yang memang bisa dirubah atau bisa ditindaklanjuti. Jangan kritik kepala IGD tidak adil karena dia perempuan. Sebab fakta jika beliau seorang perempuan tidak akan bisa diubah!

Berikan kritik yang konstruktif dengan solusi

Ketika kita memberikan kritik dengan orientasi masa depan, dengan bertujuan untuk perbaikan, tentunya kita juga memiliki solusi yang dapat diberikan terkait dengan kritikan kita.

Jika kita merasa kepala IGD kita tidak adil karena beliau tidak melihat kebutuhan di lapangan dan distribusi dokter, maka tawarkan solusi yang bisa membantu kepala IGD tersebut melihat kebutuhan dan distribusina.

Gunakan metode sandwich

Metode sandwich dikenal juga dengan metode PIP atau positive-improve–positive.

Memberi kritik dengan metode ini dimulai dengan memberikan positive feedback terhadap kondisi yang sudah ada terlebih dahulu, kemudian diikuti dengan kritikan, dan di tutup dengan saran perbaikan yang konstruktif dan positif.

Jujur, lugas dan selalu tutup dengan positive feedback

Dalam menyampaikan kritik, harus dengan bahasa yang lugas dan dengan kejujuran. Tidak perlu berputar-putar dan menambah bumbu. Karena hal ini akan mengaburkan esensi dari kritikan tersebut.

Baca juga  COVID-19 101: a summary for doctors/GP

Dan jangan lupa untuk selalu memberikan saran, solusi, dan positive feedback, sebab kritikan kita sejak awal bertujuan untuk membangun suasana yang lebih baik.

Kesimpulan

Memberikan kritik adalah suatu aspek yang penting. Namun memberikan kritik harus dengan tata cara yang benar, agar maksud dapat tersampaikan dengan baik. Apalagi ketika kita memberikan kritik terhadap atasan/manager/boss/pimpinan di lingkungan kita.

Selain tips-tips tersebut ada berbagai macam cara yang tentu bisa dipilih, namun dengan resiko masing-masing. Kalau sejawat, bagaimana tips memberikan kritik ala sejawat?

Sumber:
https://lattice.com/library/how-to-not-sound-like-a-jerk-when-giving-your-boss
https://www.wework.com/ideas/professional-development/management-leadership/giving-feedback-to-your-manager-tips-and-examples
https://matterapp.com/blog/examples-of-constructive-criticism-for-your-boss
https://www.ekrut.com/media/cara-mengkritik-yang-baik

Leave a Reply

%d bloggers like this: