Penyebab bullying terjadi dalam Kedokteran: Sebuah Studi Ilmiah

Bullying atau perundungan bukan hal yang baru di dunia kedokteran. Sebab, sedikit banyak dokter pasti mengalaminya karena sudah terjadi sejak puluhan tahun yang lalu. Lalu, apa sebenarnya penyebab bullying dalam kedokteran ini dan mengapa bisa terus terjadi bertahun-tahun?

Sebuah studi yang terbit pada tahun 2020 dari Australia yang menelisik tentang bullying dan harassment di lingkungan klinis memberikan sedikit gambaran tentang mengapa bullying terus mengakar di dunia kedokteran meskipun secara ilmiah sudah diketahui dampak negatifnya bagi para dokter.

Apa saja permasalahan yang didiskusikan dalam studi tersebut?

Hierarkial dalam kedokteran

Sistem hierarkial layaknya pada satuan militer merupakan sistem yang prominen dalam kedokteran. Dengan adanya hierarkial ini, akan mempermudah membentuk chain of command dalam melakukan pelayanan medis, termasuk dalam keputusan medis.

Sayangnya, beberapa orang kemudian melakukan abuse terhadap sistem hierarkial tersebut, hingga menjadikan orang pada posisi terbawah (dalam hal ini junior) seolah-olah sebagai pelayan mereka.

Karena sistemnya bersifat hierarkial, maka akan sangat mudah bagi seorang junior yang kemudian menjadi senior, akan melanjutkan sistem ini.

Intelectual humiliation yang dialami oleh para korban bullying dapat merubah nilai-nilai yang dimiliki para korban dan menyesuaikannya dengan para pelaku bullying (atasan mereka) untuk bertahan hidup. Hal ini akan membantu budaya ini terus bertahan.

Menurut ahli psikologi, peserta didik yang berhasil melewati abuse dari sistem hierarkial ini cenderung akan berpindah ke posisi otoritas yang lebih tinggi dan kemudian mendorong perilaku dan praktik abuse yang sama.

Kultur dalam kedokteran

Dalam menjalani pendidikan kedokteran, ada beberapa kultur yang tertanam sangat dalam, misalnya konsep self-sacrifice. Di mana banyak dokter percaya bahwa untuk dapat berhasil dalam pendidikan kedokteran, seorang dokter harus mengorbankan dirinya sendiri, termasuk mengorbankan kehidupan personal seperti memiliki anak.

Baca juga  6 Alasan Paling Populer Dokter Melanjutkan ke PPDS

Sebab sebagian dokter percaya bahwa self-sacrifice ini penting untuk memberikan pelayanan maksimal kepada pasien. Bahkan overworked akhirnya menjadi produk dari self-sacrifice ini.

Kultur yang kedua adalah resiliensi atau ketangguhan. Seorang dokter harus selalu tangguh, sehingga segala macam tindakan mempermalukan atau bullying dianggap sebagai bagian untuk melatih ketangguhan mereka.

Selain itu, ada pula praktik penghormatan kepada dokter senior, sehingga junior merasa untuk harus selalu berusaha untuk bersikap baik kepada dokter senior tersebut.

Pada studi di Inggris tahun 2004, muncul istilah hidden curriculum dalam kedokteran, yang isinya merupakan sebuah standar pembelajaran informal yang menanamkan hierarki, kompromi terhadap integritas etika dan netralisasi emosi. Hal ini dapat berujung pada pelecehan dan intelectual humiliation yang justru dapat merusak profesionalisme.

Tidak ada jaminan bagi pengaduan bullying

Mayoritas responden dalam studi tersebut menyatakan bahwa tidak ada jaminan kerahasiaan terhadap pelaporan, tidak ada kejelasan terkait kebijakan pengaduan, dan kekhawatiran dampak terhadap karir di masa depan juga menjadi faktor yang mencegah para korban untuk melapor.

Beberapa dokter bahkan percaya bahwa tidak akan ada penindakan yang jelas meskipun korban sudah melapor. Ada juga kekhawatiran bahwa pelaporan justru akan membuat seseorang tidak terlihat kredibel dalam menjaga chain of command dalam kedokteran, sehingga berdampak pada karirnya.

Umumnya, hanya orang-orang yang merasa nothing to lose yang berani melaporkan.

Kesimpulan

Perundungan atau bullying bukan hal yang rahasia di kalangan dokter, baik di dalam maupun luar negeri.

Hanya saja, untuk dapat memutus rantai perundungan ini, kita harus lebih memahami faktor yang mendorong dan melanggengkan perilaku ini sekaligus memberikan perlindungan yang jelas bagi para pelapor, dan hukuman yang jelas bagi para pelaku.

Baca juga  Yang Baru dari Beasiswa LPDP Spesialis Tahap I 2023

Pertanyaannya, sudah siapkah sejawat menjadi agen perubahan?

Sumber:
Colenbrander, L., Causer, L. & Haire, B. ‘If you can’t make it, you’re not tough enough to do medicine’: a qualitative study of Sydney-based medical students’ experiences of bullying and harassment in clinical settings. BMC Med Educ 20, 86 (2020). https://doi.org/10.1186/s12909-020-02001-y

Leave a Reply

%d bloggers like this: