#maujadippds: Andrologi! Bukan cuma reproduksi pria!

Salah satu prodi PPDS yang tergolong minor tapi peminatnya terus-terusan meningkat drastis salah satunya adalah prodi Andrologi! Mau tau kenapa makin lama makin banyak peminatnya? Simak dulu yuk serba-serbi prodi Andrologi

  • Prodi Andrologi adalah prodi yang saat ini eksklusif hanya ada di UNAIR.
  • Dengan lama Studi: 6 semester 
  • Biaya Studi: SPP 10 juta sementara sumbangan pendidikan 25 juta 

Kenapa prodi Andrologi?

“Di Andrologi memang tidak ada jaga malam jadi banyak waktu dengan keluarga,” menurut dr. Bella Amanda, PPDS Andrologi, ”semenjak menikah dan kemudian hamil, yang awalnya ingin masuk spesialisasi mayor akhirnya bergeser ingin mencari bagian minor, dengan harapan punya waktu lebih banyak untuk keluarga. Berhubung suami sudah duluan masuk ke bagian Obsgyn, saya mencoba mencari spesialisasi yang masih ada keterkaitannya dengan Obsgyn. Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya terpilihlah andrologi sebagai spesialisasi pilihan”.  Diakui oleh dr. Bella, ternyata semakin didalami, Andrologi semakin memikat, “terutama jika berkaitan dengan teknologi reproduksi berbantu yang ilmunya masih terus berkembang sampai sekarang”. Selain itu, mempelajari seksologi juga tak kalah menarik bagi dr. Bella, karena selain harus memahami dasar dari terjadinya disfungsi seksual, kita juga perlu mempelajari dinamika sosial yang terjadi di dalamnya. “Seringkali mendapatkan cerita-cerita yang unik dan menarik dari pasien yang saya sendiri tidak pernah membayangkan sebelumnya, tapi justru belajar banyak dari situ” aku dr. Bella.

Sementara dr. Cennikon Pakpahan, PPDS Andrologi melihat bidang andrologi sebagai bidang yang menarik karena ilmunya belum banyak berkembang dan belum banyak diminati kalangan dokter yang lain, alias anti-maintsream. “Dari segi keilmuan sendiri, andrologi yang mungkin dokter biasanya tahu hanya bicara soal reproduksi laki-laki, ternyata tidak hanya itu. Mempelajari dan membantu pasangan dengan keinginan untuk memiliki anak memiliki tantangan tersendiri. Bukan hanya sekadar periksa sperma atau teknologi reproduksi berbantu, namun dibutuhkan pendekatan yang holistic untuk menemukan alternatif pilihan pengobatan bagi pasien” ungkap dr. Cennikon. Apalagi menurut dr. Cennikon saat ini muncul trend dimana kualitas sperma laki-laki semakin menurun, sehingga spesialis Andrologi memiliki andil.  

Baca juga  #maujadippds: Farmakologi Klinik! Yes klinik, yes struktural

Bagaimana lingkup keilmuannya?

Andrologi punya 5 pilar utama keilmuan, yaitu infertilitas (masalah kesuburan pria), disfungsi seksual (masalah seksual), hipogonadisme (masalah hormonal), kontrasepsi pria, dan anti-aging.  “Kelima pilar ini sering masuk saat ujian PPDS loh,” tambah dr. Bella. Menurut dr. Cennikon, seksologi merupakan salah satu keilmuan yang menarik, “Seksologi menjadi tantangan tersendiri karena tidak mudah untuk masyarakat dengan budaya timur untuk berbagi masalah ranjang kepada pihak ketiga. Ini berarti dokter harus memiliki skill dan daya pikat untuk bisa meyakinkan pasangan berbagi”. Selain itu topik hormonal, seperti hipogonadisme juga dikatakan menjadi primadona karena ternyata testosterone tidak hanya berfungsi sebagai hormone steroid sex saja, tapi juga berpengaruh dalam berbagai penyakit regeneratif seperti Diabetes Melitus, Hipertensi, obesitas, CKD, dan lainnya. Bahkan androgen juga diketahui memiliki peranan dalam proses penuaan. Semakin menarik kan topiknya?

Prospek?  

Menurut dr. Cennikon, saat ini banyak topik keilmuan yang menarik dan berprospek sehingga dapat membuka peluang dalam berkarir di bidang Andrologi. “Kita coba ambil contoh kasus infertilitas ya,” dr. Bella menjelaskan, “infertilitas mengenai kurang lebih 15% pasangan usia reproduksi di seluruh dunia, dan dari kasus-kasus infertilitas tersebut sebanyak 50%nya merupakan kontribusi dari pria. Bisa dibayangkan betapa banyak kasusnya kalau dihitung dari populasi penduduk di Indonesia. Sementara jumlah spesialis andrologi di Indonesia masih belum mencapai 100 orang”. Pengobatan infertilitas dengan hormon atau kasus-kasus infertilitas yang berkaitan dengan genetik juga masih banyak yang belum tersentuh dan akan sangat menantang menurut dr. Cennikon. 

Diluar masalah infertilitas, masalah seksologi dan anti aging pun semakin berkembang. Pendekatan couples therapy, psikoanalitik bisa menjadi kebutuhan yang akan banyak di masa depan, “apalagi jika dokter memiliki skill, bonding dan chemistry yang sangat baik dengan pasien” jelas dr. Cennikon, “dan masih banyak lagi pendekatan yang berkembang seperti LI-ESWT, stem cell, dan nano partikel, karena masih banyak pengobatan permasalahan seksologi yang belum memuaskan”. Semakin kesini masyarakat semakin sadar akan pentingnya kesehatan seksual dan ingin terus memiliki kehidupan seksual yang berkualitas bahkan hingga usia lanjut. Sehingga saat ini spesialis Andrologi semakin dicari oleh banyak orang. 

Baca juga  Persiapan paling dasar untuk seleksi PPDS

Menariknya lagi, kerja sebagai spesialis andrologi tidak harus di rumah sakit, karena banyak juga spesialis yang membuka praktek pribadi. Meskipun topik dalam spesialisasi ini spesifik ke arah gender tertentu, tapi menjadi spesialis andrologi tetap cocok untuk dokter cewek maupun cowok. “Kalau menurut saya tidak ada perbedaan prospek antara cewek dan cowok. Memang terkadang pasien memiliki preferensi sendiri mengenai siapa dokter yang akan memeriksanya ya, terutama karena adanya pemeriksaan alat kelamin.  Tetapi sejauh pengalaman saya tidak banyak yang kasusnya demikian, apalagi jika komunikasinya dari awal sudah enak dan menekankan profesionalitas” jelas dr. Bella.

Nah….

Untuk temen-temen yang melirik andrologi, dr. Bella menjelaskan bahwa beberapa PPDS Andrologi yang sudah masuk saat ini ada yang mencari pengalaman magang sebelumnya tetapi banyak juga yang tidak, jadi tidak perlu khawatir tentang pengalaman kerja, “yang pasti harus menunjukkan motivasinya untuk masuk andrologi ya, contohnya mengikuti seminar atau pelatihan yang berhubungan dengan andrologi” tambah dr. Bella. Pentingnya magang, seminar atau workshop juga diutarakan dr. Cennikon. Selain itu, mengingat pusat pendidikan yang hanya satu dengan daya tampung yang juga sangat sedikit, maka calon peserta didik harus pandai membaca situasi. Menulis artikel di jurnal bisa menurut dr. Cennikon dapat menjadi poin plus.

Untuk ujian teori, dr. Bella menyarankan beberapa textbook yang sering digunakan di andrologi antara lain: Andrology (Nieschlag), Andrology for the clinician (Schill). Selain itu harus belajar juga untuk ujian dasar seperti psikotes, TPA, dll. Satu lagi yang tidak boleh lewat dibaca adalah manual pemeriksaan analisis semen oleh WHO, “sisanya bisa cari dari artikel-artikel jurnal terbaru dan banyak tanya-tanya juga sama angkatan sebelumnya” dr. Bella menjelaskan. Terakhir, memiliki tempat kembali setelah selesai pendidikan juga berperan penting menurut dr. Cennikon karena ini akan sangat berperan dalam persebaran alumni. 

Baca juga  SKB Kemenkes dan Kemendikbud Ristek: Angin segar buat dokter?

Mau coba bergabung jadi PPDS Andrologi?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: