Mengambil Subspesialis/Fellowship di Luar Negeri: Gimana caranya??
“Sama kayak di residensi. Ada logbook, ada pelayanan klinis. Bedanya subspesialis lebih spesifik, jadi saya cuma mengerjakan pasien ginekologi-onkologi saja” jelas dr. Kartika.

Menjalani pendidikan di Belanda menurut dr. Kartika sangat berbeda dengan di Indonesia. Segala hal yang dikerjakan sangat persis dengan yang ada di textbook. Hal-hal yang advance yang ada di jurnal, juga mudah ditemukan di Belanda.
Selain itu, jarak antara guru dan murid yang dekat menjadikan guru-guru tersebut sangat reachable bagi para murid.
“Profesor di sana itu bener-bener seperti profesor, jadi dia benar-benar mengajar. Kita bisa tanya apa saja, kontak beliau kapan saja, karena mereka punya kewajiban untuk mengajar,” lanjutnya lagi, “dan mereka akan di-review, kalau banyak komplain datang karena ngga pernah mengajar, gelar profesor mereka bisa dicabut”.
Menurutnya, suasana belajar di sana sangat mendukung untuk orang-orang yang tidak pintar sekalipun untuk bisa lebih eager to learn.
Bagaimana pasca subspesialis/fellowship di luar negeri?
Pada tahun terakhirnya menjalani fellowship, dr. Kartika mengaku tertarik untuk menjalani program PhD. Apalagi dirinya mendapat posisi PhD yang sesuai dengan minatnya dalam kanker ovarium pada tahun 2019.
Namun, sebelum memulai program PhD-nya, beliau justru mendapat kesempatan untuk bekerja di Afrika Selatan (Afsel).

“Kalau di Eropa itu, ada semacam peraturan tidak tertulis untuk subspesialis bekerja mandiri di luar negara-negara Eropa setelah pendidikan subspesialis” jelasnya.
Subspesialis didorong untuk bekerja di negara-negara lain di luar Belanda yang memiliki sistem yang berbeda, misalnya di Afrika, atau di Inggris, atau di Korea Selatan. Dr. Kartika sendiri memilih Afsel karena mendapat kesan yang menyenangkan dari seniornya di Belanda.
“Afrika selatan itu fasilitasnya kayak Eropa, tapi dengan ijin yang tidak sulit, jadi kita bisa melakukan apa saja di sana, tapi pasiennya kayak di Indonesia,” tukasnya. Selain mendapat pengalaman berharga di sana, dr. Kartika juga mengaku mendapat imbalan berupa gaji selama bekerja di Afsel.
Setelah menyelesaikan tugas bekerja tersebut, dr. Kartika kembali ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan jenjang S3/PhD nya.
Jika kembali ke Indonesia, apa yang penting untuk diperhatikan?
Setelah menyelesaikan pendidikan subspesialisnya pada tahun 2018, dr. Kartika sempat mengalami kendala ketika ingin menyetarakan gelar pendidikan subspesialisnya tersebut di Indonesia. Padahal penyetaraan gelar tersebut sangat diperlukan untuk kepangkatan sebagai PNS.
Meskipun sudah menyiapkan dokumen-dokumen yang diminta dan melakukan submisi ke Kementrian Pendidikan Tinggi (Dikti), pada kenyataanya proses penyetaraan gelar/adaptasi tersebut memakan waktu begitu lama, hingga hampir satu tahun.
“Mungkin Dikti juga bingung (waktu itu), akhirnya Dikti menyerahkan ke kolegium, mungkin masalahnya di sini, kita ngga siap” dr. Kartika menjelaskan, “Mungkin dokter diaspora yang tidak pulang itu karena mereka kesulitan dengan proses yang tidak transparan.”
Karena penyetaraan gelar subspesialis dilakukan oleh kolegium, sifatnya sangat berbeda-beda antara satu kolegium spesialisasi dengan yang lain. “Saya menunggu lama (waktu itu) karena di kolegium Obgyn belum ada program adaptasi untuk subspesialis, sementara untuk spesialis sudah ada” tambah dr. Kartika.

Dalam kurun waktu menunggu itulah, dr. Kartika kemudian melanjutkan pendidikan S3-nya sambil menunggu hingga akhirnya penyetaraan gelar subspesialis dan adaptasi dapat dilakukan pada tahun 2023 ini selama 12 bulan.
Belajar dari hal ini, memastikan adanya proses adaptasi dan penyetaraan gelar di dalam kolegium spesialisasi yang kita ambil menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Beruntungnya, hal ini menjadi salah satu agenda yang didukung oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Meskipun terkesan sulit, dr. Kartika berpesan, “Kejarlah ilmu di manapun. Kalau (ilmu yang diminati) ngga bisa di Indonesia, kejarlah ke luar. Mau diakui (gelarnya) atau tidak itu belakangan, percaya aja kalau kita punya ilmu, pintu-pintu (kesempatan) itu pasti akan terbuka”.
Adakah pesan-pesan dari dr. Kartika untuk dokter/dokter spesialis lain?

“Dunia ini luas, ilmu ada di mana saja. Jika kita cuma sekolah di satu tempat, kita beranggapan bahwa hanya di situlah yang bagus. Padahal banyak tempat yang bagus untuk kita belajar” ujarnya.
Selain itu, beliau juga berpesan, bahwa jika kita ingin mengembangkan diri, maka kita harus siap keluar dari zona nyaman. “Kita harus berani. Apalagi, kesempatan sudah semakin banyak dewasa ini,” tambahnya lagi.
Bagi teman sejawat yang ragu untuk melanjutkan studi ke luar negeri, beliau berpesan untuk jangan menutup diri, “Karena batasan hidup kita itu justru ada di diri sendiri. Kita tidak bisa mengubah orang lain mau bilang apa, tapi kita bisa merubah apa yang ingin kita lakukan”.
Jadi, tunggu apa lagi, ada yang tertarik mengupdate ilmu sampe ke negeri seberang?
