Apa saja yang perlu diperhatikan sebelum melanjutkan pendidikan dokter/spesialis di luar negeri?

Bukan rahasia lagi jika dewasa ini banyak Warga Negara Indonesia (WNI) yang mengenyam pendidikan di luar negeri (LN). Tidak hanya pendidikan sarjana saja, menjalani pendidikan dokter/spesialis di luar negeri juga bukan sesuatu hal yang mustahil saat ini.

Tetapi, sebelum mengambil keputusan untuk menjalani pendidikan dokter/spesialis di luar negeri, teman-teman harus memahami beberapa hal berikut ini:

1. Tidak semua perguruan tinggi memiliki kualitas yang diakui

Menjalani pendidikan di luar negeri mungkin terdengar keren dan bergengsi, tapi perlu diketahui bahwa tidak semua perguruan tinggi di luar negeri, bahkan di negara maju sekalipun, memiliki kualitas yang diakui. Apalagi untuk jenjang pendidikan dokter/dokter umum.

Sayangnya, saat ini Indonesia tidak memiliki daftar khusus terkait perguruan tinggi yang diakui di Indonesia. Sehingga banyak WNI yang kemudian tergiur untuk menjalani pendidikan dokter di perguruan tinggi yang “tidak jelas reputasinya” di luar negeri, tanpa mengetahui resiko yang terjadi jika mereka kemudian kembali ke tanah air untuk bekerja.

Seperti yang disampaikan dalam diskusi pada Sosialisasi RUU Kesehatan terkait Dukungan Pemerintah dalam Pelayanan Spesialis bagi Lulusan LN, dewasa ini ternyata banyak lulusan dokter umum dari luar negeri yang memiliki kompetensi di bawah lulusan di Indonesia.

Akibatnya, untuk menyamakan kompetensi dengan lulusan Indonesia, para dokter umum lulusan luar negeri ini seperti harus “mengulang kembali” pendidikan mereka melalui program adaptasi dokter yang durasinya bisa bertahun-tahun.

Sama halnya untuk program spesialis, dimana sistem pendidikannya sangat berbeda di luar negeri (hospital-based residency) dibandingkan dengan di Indonesia. Akibatnya, banyak terjadi perbedaan kompetensi, yang membuat spesialis lulusan LN harus menambah kompetensi mereka dalam jangka waktu yang cukup lama sekembalinya ke Indonesia.

Baca juga  Bagaimana menyampaikan diagnosis ke pasien dengan efektif?

Ke depannya, Kementerian Kesehatan bersama dengan stakeholder terkait berencana untuk membuat sebuah daftar institusi yang diakui untuk keperluan program adaptasi dokter nantinya. Sehingga dokter lulusan LN dapat bekerja di Indonesia dengan standar kompetensi yang sama tanpa harus “mengulang kembali” pendidikan mereka dengan durasi yang terlalu lama.

Bagi teman-teman yang tertarik untuk melanjutkan pendidikan dokter di luar negeri, atau tertarik melanjutkan jenjang spesialis di luar negeri, coba cek dulu universitas tujuan, atau universitas asal kita apakah sudah diakui dunia, melalui direktori World Directory of Medical Schools.

2. Perbedaan sistem pendidikan dan gelar dokter

Tidak semua universitas memiliki sistem pendidikan dan gelar yang sama untuk pendidikan dokter. Tidak semua universitas di negara lain menghadiahkan gelar setara Medical Doctor (MD) diakhir rangkaian pendidikan mereka.

Misalnya di beberapa negara seperti China dan Rusia, dimana pendidikan Bachelor digelar selama 3 tahun dan dilanjutkan dengan 2-3 tahun pendidikan spesialistik di satu bidang yang dipilih.

Seperti yang diutarakan oleh dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS, Ketua Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), bahwa sistem pendidikan spesialistik seperti itu sebenarnya adalah setara magister/master saja, bukan setara dengan pendidikan spesialistik.

Yang membingungkan, di negara-negara seperti Rusia tersebut, tidak ada gelar setara dengan MD, sebab dari pendidikan Bachelor langsung dilanjutkan dengan pendidikan spesialistik, tanpa pendidikan klinis setara dokter umum.

Hal ini akan membuat proses adaptasi menjadi sulit jika dokter tersebut kembali ke tanah air. Sebab di Indonesia, tidak mengakui sistem pendidikan semacam itu, di mana dokter tidak menjalani pendidikan klinis setara MD.

3. Agen pendidikan “nakal” yang mencari mangsa

Pendidikan memang merupakan salah satu komoditas bisnis yang menggiurkan. Sehingga tidak sedikit orang membisniskan pendidikan dengan menjadi “agen sekolah di luar negeri”.

Baca juga  Pendaftaran PPDS Bulan Maret 2022

Berbekal iming-iming “sekolah di luar negeri”, kini banyak agen yang mengincar WNI. Mereka bekerja dengan mempromosikan universitas yang reputasinya tidak jelas kepada orang-orang yang tidak memahami resikonya.

Dengan dalih bahwa universitas tersebut “lulusnya gampang” atau “pendaftarannya mudah”, mereka menarik biaya yang cukup tinggi untuk mengurus pendaftaran calon mahasiswa tersebut. Padahal, dampak dari reputasi yang tidak jelas berpengaruh terhadap karir calon mahasiswa tersebut.

Hal ini juga terjadi di ranah pendidikan dokter bahkan pada jenjang spesialisasi sekalipun. Buntutnya, para lulusan harus menjalani proses adaptasi atau penambahan kompetensi yang panjang.

Meskipun tidak semua agen pendidikan adalah agen yang “nakal”, namun maraknya praktik ini memerlukan perhatian lebih bagi teman-teman yang ingin menggunakan agen. Pastikan agen yang memang digunakan memiliki reputasi yang baik, dan memahami regulasi di negara tujuan maupun di negara kita sendiri.

Kesimpulan

Melanjutkan pendidikan ke luar negeri memang menggiurkan. Tetapi, kita harus memastikan kembali target jangka panjang kita. Apabila kita berencana kembali ke tanah air, maka kita harus memahami sistem yang berlaku di tanah air, terkait pendidikan di luar negeri.

Jadi, ada yang ingin melanjutkan pendidikan di luar negeri?

Sumber: Sosialisasi RUU Kesehatan terkait Dukungan Pemerintah dalam Pelayanan Spesialis bagi Lulusan LN

Leave a Reply