Bagaimana menyampaikan diagnosis ke pasien dengan efektif?

diagnosis efektif

Belakangan sering terdengar keluhan dari masyarakat terkait pelayanan kedokteran yang ditengarai disebabkan oleh kurangnya komunikasi antara dokter dan pasien. Memangnya, seperti apa cara menyampaikan diagnosis ke pasien dengan efektif?

Dimulai dari membangun rapport

Rapport adalah bentuk hubungan yang harmonis, yang dapat mendukung kolaborasi antara dokter dan pasien. Rapport yang efektif terbukti meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan dan outcome klinis pasien yang berujung pada kepuasan pasien. Dari rapport yang baik bisa mendorong trust atau kepercayaan terhadap dokter.

Membangun rapport tidak membutuhkan komunikasi verbal, namun justru komunikasi non verbal lebih utama, seperti bahasa tubuh, termasuk ekspresi wajah, dan nada suara ketika dokter berbicara kepada pasien.

Namun, adanya pandemi menyebabkan faktor terbesar dalam komunikasi non verbal tidak dapat dilakukan karena terhalang masker. Hal ini menjadikan komunikasi verbal sebagai titik terpenting dalam membangun rapport.

Untuk dapat mebangun rapport dan trust yang baik, jelas membutuhkan waktu yang tidak singkat. Namun kita bisa memanfaatkan waktu yang ada dengan seefektif mungkin.

Jadi, seperti apa komunikasi yang efektif dalam menyampaikan diagnosis?

Menyampaikan diagnosis dengan efektif

Ketahui latar belakang pasien

Dalam melakukan anamnesis, sebagai dokter kita diajarkan untuk menggali tidak hanya terkait penyakit, namun juga kondisi psikososialnya. Dengan menanyakan pekerjaan atau pendidikan (bagi yang belum bekerja) kita bisa mendapat gambaran tentang tingkat pendidikan pasien.

Hal ini akan mempengaruhi kesadaran pasien terhadap penyakitnya, kemampuan untuk mengerti istilah medis dan memproses informasi terkait dengan masalah kesehatan yang dihadapi.

Baca juga  Dokter tapi belajar Ilmu Sosial? Bisa banget! #maujadimagister

Dengan memiliki informasi ini, kita dapat membuat penjelasan yang sesuai dengan tingkat pemahaman masing-masing pasien. Sudah saatnya kita berhenti menyamakan tingkat pemahaman semua pasien adalah sama.

Gunakan bahasa yang mudah dipahami

Menggunakan bahasa atau istilah yang sesuai dengan tingkat pemahaman pasien tidak menghilangkan kewajiban dokter untuk menjelaskan diagnosis sebenarnya pasien.

Untuk menghindari kesalahpahaman, dokter dapat memberikan diagnosis dengan disertai penjelasan yang mudah dipahami. Bukan dengan menggantikan diagnosis dengan istilah awam tanpa menjelaskan penyakit yang sebenarnya.

Misalnya, jika kita ingin menjelaskan pasien dengan TB, kita bisa menyertakan istilah “flek paru” tanpa menghilangkan diagnosis utamanya, yaitu TB.

Tanyakan apa yang sudah diketahui oleh pasien tentang penyakitnya

“Apakah ibu pernah mendengar penyakit tuberkulosis atau TB?”
Dengan menanyakan kembali atau mengkonfirmasi, kita dapat melihat tingkat pemahaman pasien terhadap penyakitnya.

Hal ini penting, sebab dengan adanya teknologi yang maju, tidak sulit bagi pasien untuk mencari tahu sendiri tentang kondisinya.

Ini juga dapat membantu dokter untuk melihat tingkat pendidikan dan pemahaman penyakit, sehingga penjelasan yang diberikan terkait penyakit tersebut bisa lebih sesuai.

Gunakan alat bantu dalam menjelaskan diagnosis

Untuk menjelaskan diagnosis yang sulit, dokter dapat menggunakan alat bantu misalnya dengan menuliskan diagnosanya didalam secarik kertas yang bisa dibawa pulang oleh pasien. Sehingga pasien bisa mencari informasi dengan resource-nya sendiri.

Di jaman modern, kita juga dapat menggunakan smartphone atau gawai kita untuk membantuk mengedukasi pasien. Kita juga bisa menyarankan sumber informasi atau aplikasi yang dapat digunakan pasien untuk meningkatkan pemahamannya terhadap diagnosis dan rencana terapi.

Sebuah sistematik review yang terbit pada tahun 2020 lalu menyebutkan bahwa mengedukasi pasien dengan informasi medis melalui gawa mereka dapat meningkatkan tingkat pengetahuan, kepatuhan pengobatan, kepuasan, hingga outcome klinis. Di sisi lain dapat berdampak positif dari sisi ekonomi juga.

Baca juga  Analisis Strategi Tembus LPDP untuk Spesialis

Perhatikan emosi

Tidak hanya melihat emosi pasien ketika menerima penjelasan tentang diagnosis dan rencana terapinya, tapi kita juga perlu melihat apakah diri kita sendiri sebagai dokter sudah memberikan penjelasan dengan emosi yang baik dan dapat diterima? Kita harus memastikan bahwa dokter sendiri memberikan informasi dengan empati yang baik.

Selanjutnya kita bisa melihat reaksi emosi dari pasien untuk menilai apakah penjelasan yang diberikan sudah memuaskan.

Kesimpulan

Teknik ini merupakan teknik yang bisa diadopsi untuk membuat pekerjaan kita sebagai dokter menjadi efektif, meskipun dalam kenyataannya kondisi yang ada tidak selalu ideal untuk menerapkan poin-poin ini.

Semoga ke depannya dokter bisa punya lebih banyak waktu sehingga dokter tidak hanya mampu membangun rapport dan kepercayaan yang baik dengan pasien, tapi juga dapat menyampaikan diagnosis dengan efektif.

Sumber:
Butt, Mohsin F. 2021. Clin Med (Lond). doi: 10.7861/clinmed.2021-0264
Gupta, Mona. 2014. How to Deliver Difficult Medical Diagnosis. https://consultqd.clevelandclinic.org/how-to-deliver-a-difficult-medical-diagnosis/
https://blog.rvts.org.au/explaining-a-diagnosis-in-an-understandable-way/
Whitehead et al. 2020. J Med Internet Res. doi: 10.2196/17342

Leave a Reply

%d bloggers like this: