Kapan saya bisa menjadi spesialis? Dari kacamata seorang “muggle” di dunia kedokteran

Ada banyak alasan mengapa menjadi dokter spesialis menjadi pilihan bagi mayoritas dokter di Indonesia. Tapi, tidak semua menyadari bahwa peluang menjadi spesialis bak mencari jarum dalam tumpukkan jerami. Pasalnya, fakta yang ada di lapangan menunjukkan bahwa untuk bisa menjadi spesialis tidak hanya membutuhkan uang, tapi juga waktu dan usaha, yang tidak semua orang punya.

Apalagi untuk seorang dokter yang biasa-biasa saja, bukan dari keluarga “darah biru”, dan tidak memiliki kelebihan apapun. Kira-kira kapan mereka bisa menjadi spesialis?

Bisa menjadi spesialis tepat setelah internship: hanya untuk prodi tertentu

Tidak semua prodi spesialisasi dapat menerima dokter baru yang baru saja lulus. Rata-rata prodi spesialisasi memerlukan para calon PPDS (CPPDS) nya untuk memiliki pengalaman klinis setidaknya satu tahun di luar kewajiban internship. Sehingga agak sulit untuk bisa langsung one shot tanpa pengalaman kerja klinis.

Kecuali bukan dari golongan biasa.

Menjadi spesialis tepat setelah punya pengalaman kerja klinis

Setelah memiliki pengalaman, tentu kita bisa mendaftar, itupun kalau kita datang dari keluarga yang punya previlej secara finansial. Karena semua orang tahu, PPDS tidak cuma butuh uang 100-200 juta saja. Akhirnya, kita harus bekerja dan menabung dulu untuk bisa memiliki cukup biaya.

Lamanya bekerja untuk menabung juga sangat variatif. Kalau beruntung, ketiban durian runtuh, mungkin dalam setahun kita sudah punya cukup biaya. Kalau tidak? Bisa saja memakan waktu hingga 5 tahun.

Baca juga  Skills dari kuliah kedokteran yang bermanfaat ketika kerja!

Kecuali golongan sangat pintar dan berprestasi yang bisa mendapatkan beasiswa. Atau sekali lagi, previlej.

Mismatch jumlah center PPDS dan daya tampung vs jumlah dokter baru

Biasanya, yang paling terlambat disadari oleh orang-orang, adalah poin ini. Setelah uang terkumpul, kesiapan mental dan akademis terpenuhi, banyak orang berpikir bahwa peluang PPDS akan semakin dekat. Tapi, mereka melupakan perhitungan simpel ini.

Pernahkah sejawat menghitung peluang ketika dihadapkan dengan jumlah center pendidikan dan daya tampungnya, terhadap jumlah dokter baru?

Saat ini, di Indonesia hanya memiliki kurang lebih 21 center pendidikan spesialis. Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), per tahunnya jumlah dokter spesialis yang bisa diproduksi adalah sekitar 2700-3000 dokter spesialis. Banyak?

Padahal, per tahunnya, produksi dokter umum di Indonesia adalah sekitar 10.000 hingga 12.000 dokter. Asumsinya, jika jumlah dokter spesialis baru menggambarkan 1-2x lipat daya tampung dari ke-21 center PPDS tersebut, maka hanya ada sekitar 25%, atau maksimum 50% dokter yang dapat menempuh pendidikan PPDS setiap tahunnya.

Padahal lagi, ke depannya, jumlah dokter baru ini tidak akan semakin menurun, justru akan semakin bertambah, mengingat semakin banyak universitas membuka fakultas kedokteran demi memenuhi kebutuhan jumlah dokter yang masih belum ideal di Indonesia.

Dengan asumsi hanya sebagian dokter umum saja yang bisa melanjutkan pendidikan PPDS, kira-kira kalau ditambah durasi cari pengalaman klinis dan cari uang tabungan, apakah umur kita masih cukup untuk mendaftar di prodi impian?

Hospital-based residency

Kemenkes menyadari ketimpangan jumlah dokter ini dan berusaha untuk mengakomodir masalah ini dengan membangun sistem residensi/PPDS berbasis rumah sakit seperti yang dilakukan di negara-negara maju seperti Amerika, UK, Inggris, dan beberapa negara ASEAN seperti Singapura, Filipina.

Baca juga  7 Reasons Why You Should Get PhD Abroad

Meskipun ide ini layak diberi jempol, kenyataannya untuk dapat mewujudkan rencana ini dibutuhkan usaha yang besar dan tidak sebentar. Hingga kini, RUU Kesehatan yang menjadi landasan usaha percepatan pemenuhan jumlah dokter dan dokter spesialis ini masih mendapat penolakan dari berbagai pihak.

Seperti yang kita ketahui bersama, perubahan sistem baik itu melalui Academic Health System (AHS) atau melalui Hospital-based residency ini jelas akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Pertanyaannya, apakah usia kita masih mencukupi saat peluang itu semakin lebar?

Dokter diaspora

Salah satu gagasan yang diambil oleh Kemenkes untuk mengurangi gap kekurangan jumlah dokter spesialis ini adalah dengan mempermudah adaptasi dan penyetaraan bagi dokter-dokter yang menempuh pendidikan kedokteran maupun spesialisasinya di luar negeri.

Selain menjadi ajang transfer of knowledge, proses administrasi dan penyetaraan yang transparan dan mudah ini dapat mempermudah dokter diaspora untuk kembali dan turut membangun sistem kesehatan nasional yang lebih baik lagi.

Hal ini menjadikan opsi PPDS di luar negeri sebuah opsi yang lebih singkat dan lebih cepat dibanding menunggu realisasi program hospital-based residency maupun AHS yang hingga kini masih dalam tahap pembahasan.

Nah, buat teman-teman yang tertarik menyelami opsi untuk melanjutkan PPDS di luar negeri, teman-teman bisa join di kelas diskusi dan sharing #maujadiPPDS di luar negeri bersama narasumber kami PPDS dari Malaysia dan Filipina! Klik link ini untuk informasi lebih jelas!

Sekarang, saatnya menentukan, mau menunggu berapa lama lagi untuk bisa menjadi spesialis?

Leave a Reply

%d bloggers like this: