Tentang Karir Dokter yang Tidak Pernah Didapatkan di Bangku Kuliah

karir dokter

Selama kuliah, tentu kita diajarkan bagaimana “menjadi dokter”. Tapi apakah kita pernah diperkenalkan tentang hal-hal berkaitan karir dokter?

Selama menjalani pendidikan kedokteran, tentu kita terpapar mayoritas dengan hal-hal berbau klinis. Tapi pernahkan kita mendapat paparan yang cukup tentang dunia dan karir non-klinis?

Berkarir klinis vs non-klinis

Sebuah studi kualitatif yang dilakukan di FK Unika Atma Jaya pada awal tahun 2020 ini menggambarkan alasan beberapa dokter memilih untuk berkarir non-klinisi.

Motivasi internal seperti passion terhadap bidang tertentu dan motivasi eksternal seperti adanya role model, kesempatan bekerja dan penghargaan finansial menjadi salah satu alasan para responden memilih berkarir non-klinisi.

Selain itu, pengalaman dan kegagalan selama pendidikan klinis dan preklinis juga turut berkontribusi.

Beberapa faktor pembanding seperti lamanya studi klinis vs non-klinis, resiko pekerjaan sebagai klinisi, faktor kepuasan kerja dari aspek work-life balance, hingga ke ranah “senioritas” membuat para dokter non-klinisi mantap untuk mengambil jalur tersebut ketimbang jalur klinisi.

Sayangnya, pertimbangan-pertimbangan seperti itu acap kali tidak dimiliki oleh dokter lulusan baru. Sehingga terkadang keputusan karir mereka masih belum matang.

Besarnya paparan terhadap dunia klinisi juga tidak seimbang dengan dunia non-klinis. Sehingga dapat dipastikan mayoritas lulusan baru akan mengincar dunia klinisi.

Padahal, dunia non-klinisi masih memiliki banyak area yang masih belum tersentuh dan dapat dikembangkan.

3 Hal Penting tentang Karir Dokter yang perlu diketahui sejak kuliah

Pada penelitian yang sama menunjukkan bahwa ada 3 hal penting yang patut diketahui oleh dokter muda tentang karir dokter, yang dapat membantu mereka mematangkan pilihan:

Baca juga  Menjadi Dokter Tim Sepak Bola: Seperti apa?

Mentorship

Ketika kita terjun ke dalam dunia kerja, kita tidak lagi membutuhkan pelajaran lagi, namun lebih kepada mentorship. Hal yang sama juga pernah diutarakan oleh dr. Jephtah Tobing, Sp.OT (Dissecting money podcast) tentang hal penting setelah internship.

Mentorship tidak lagi mengajarkan, tapi membimbing. Sehingga langkah kita lebih terarah sesuai minat kita.

Sayangnya, mentorship ini sering sulit didapatkan. Dan beberapa bentuk mentorship sering di salah artikan sebagai bentuk senioritas.

Memperkenalkan resiko kerja

Mengapa bekerja sebagai klinisi diasumsikan dengan gaji yang besar? Tentu karena resikonya juga besar.

Sayangnya, tidak banyak orang yang memperhatikan resiko kerja dari karir dokter yang kita pilih.

Padahal sebenarnya informasi tentang resiko kerja ini lebih mudah kita dapatkan ketika kita memiliki mentor yang tepat.

Memperkenalkan karir dokter

Beruntung saat ini sudah banyak platform yang bisa membantu kita mencari informasi tentang karir dokter.

Dan memang sangat penting untuk kita menggali informasi tentang spesialisasi, hingga ke ranah struktural sebelum kita benar-benar meniti karir.

Kesimpulan

Meniti karir sebagai dokter bukan hal yang mudah dan perlu pertimbangan yang matang. Selain motivasi internal dan eksternal, pengalaman dan faktor pembanding bisa menjadi penentu.

Dalam meniti karir, sebaiknya kita memiliki mentorship, banyak mengenal resiko pekerjaan dan jenis karir kedokteran sebelum terjun.

Jadi, apa langkahmu berikutnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: