Strategi Pemerataan Spesialis: Sudah Tahu?

Jumlah spesialis dan pemerataan spesialis masih menjadi perdebatan yang panjang. Di satu sisi, masih ada kebutuhan yang belum terpenuhi, namun di sisi lain terjadi penumpukkan tenaga.

pemerataan spesialis

Untuk membantu pemerataan spesialis, beberapa strategi telah diberlakukan untuk para calon PPDS. Apakah sudah tahu?

Memiliki penempatan kerja saat mendaftar: diutamakan

Sudah bukan rahasia lagi, bahwa calon PPDS yang memiliki tempat bekerja setelah lulus lebih diutamakan. Misalnya kiriman daerah, dokter organik RS swasta atau dokter PNS.

Untuk beberapa kolegium, persyaratan tersebut bahkan dimasukkan ke dalam persyaratan pendaftaran PPDS. Seperti pendaftaran PPDS prodi Jantung dan Pembuluh darah di UI berikut ini.

Meskipun tidak menjadi syarat mutlak (diutamakan), tapi persyaratan ini memiliki bobot yang lumayan besar bagi para pelamar.

Tidak hanya pada prodi Jantung dan Pembuluh darah di UI, beberapa prodi lain juga menerapkan aturan serupa.

Beberapa prodi memiliki aturan dimana para lulusannya harus bersedia ditempatkan diluar daerah, utamanya daerah perkotaan.

STR diberikan setelah memiliki tempat kerja

Menurut salah seorang narasumber kami, seorang dokter spesialis muda lulusan tahun 2021, saat ini PPDS dituntut untuk mendapatkan pekerjaan sebelum lulus.

Sebab STR baru akan diberikan setelah kita memiliki kejelasan akan bekerja di mana. Sehingga cara terbaik untuk mencari pekerjaan adalah melalui networking diantaranya ke kolegium atau ke lingkungan pendidikannya yang mengutamakan pemerataan.

Untuk para PPDS yang sudah memiliki tempat untuk “kembali”, maka hal ini tidak menjadi masalah. Tetapi, untuk dokter spesialis muda yang masih belum memiliki tempat bekerja, maka ini bisa menjadi momok.

Baca juga  Dokter umum gaji besar? Ini rahasianya

Pemerataan Spesialis lewat Program Kemenkes

Program Pendayagunaan Dokter Spesialis (PGDS) atau yang dulu dikenal dengan WKDS (Wajib Kerja Dokter Spesialis) merupakan salah satu strategi pemerintah melalui Kemenkes untuk pemerataan dokter spesialis.

Memiliki sistem yang hampir sama dengan Nusantara Sehat, dokter spesialis yang berminat dalam program ini dapat mendaftar melalui kolegium dan memilih “wahana”.

Wahana-nya umumnya adalah rumah sakit milik pemerintah atau TNI/POLRI , yang masih mengajukan kebutuhan tenaga dokter spesialis melalui Kemenkes.

Salah satu kelebihan dari program ini adalah untuk pendaftarannya, tidak mutlak dibutuhkan STR. Surat pengurusan STR dapat digunakan untuk mendaftar. Pendaftaran juga dilakukan melalui kolegium. Sehingga spesialis muda baru lulus bisa langsung apply.

Selain itu, tunjangan yang diberikan juga dianggap cukup besar. Sekaligus menjadi pengalaman mengabdi di daerah yang memang membutuhkan.

Kesimpulan

Saat ini, baik kolegium maupun pemerintah telah mengusahakan pemerataan dokter spesialis dengan langkah-langkah yang beragam. Mulai di tingkat prodi ketika pendaftaran, hingga di akhir kelulusan.

Jika ingin peluang menjadi dokter spesialis yang lebih baik, maka pemerataan spesialis ini menjadi kuncinya.

Menurut teman-teman, mana strategi pemerataan yang cocok?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: