Lika-liku PPDS jalur PNS: Seperti apa?

ppds jalur pns

Menjadi seorang spesialis tentu adalah impian semua dokter. Untuk menggapainya, seorang dokter bisa melalui berbagai jalan. Salah satu jalan yang paling diminati adalah jalur PNS. Memang seperti apa PPDS jalur PNS?

Menjadi PNS bisa jadi adalah impian dari sebagian besar masyarakat Indonesia. Selain statusnya yang “jelas”, gaji dan tunjangan yang tetap, karir yang berjenjang, jaminan kesehatan dan jaminan pensiun menjadikan jalur PNS seperti idola di kalangan masyarakat Indonesia.

Di bidang kedokteran pun, menjadi PNS juga memiliki keunggulan tersendiri, seperti status dan jenjang karir, penempatan yang jelas, hingga ketersediaan beasiswa untuk sekolah lanjut, termasuk PPDS, dengan peluang diterima yang tinggi. Namun tidak begitu saja seorang PNS bisa menjadi PPDS. Jadi seperti apa lika-liku PPDS jalur PNS?

Peluang tergantung kebutuhan daerah

Untuk yang tertarik lanjut PPDS, harus aware terhadap kebutuhan dokter spesialis di daerah. Karena ‘bukaan’ untuk beasiswa PPDS tergantung dari kebutuhan dokter di daerah tempat kita menjadi PNS. Kuota-nya pun disesuaikan dari kebutuhan daerah tersebut.

Misalnya kita bekerja sebagai dokter PNS di kota X yang memiliki RSUD A dan B. Jika ada dokter PNS spesialis yang bekerja di RSUD A atau B yang akan pensiun, maka akan dibuka kesempatan “sekolah” atau PPDS untuk dokter PNS di kota X, baik yang bekerja di RSUD tersebut maupun yang di puskesmas untuk memenuhi kebutuhan dokter spesialis di RSUD tersebut.

Jenis spesialisasi pun juga tergantung dengan kebutuhan daerah. Misalnya dokter PNS spesialis yang akan pensiun adalah dokter spesialis forensik, maka akan dibuka kesempatan sekolah untuk PPDS forensik.

Baca juga  Dokter tapi belajar Ilmu Sosial? Bisa banget! #maujadimagister

Untuk beberapa spesialisasi yang masih baru, dapat diajukan. Namun kembali lagi ke kebutuhan dan kesiapan daerah untuk spesialisasi tersebut. Jika memang dibutuhkan atau akan dikembangkan, maka bisa jadi akan dibuka kesempatan untuk sekolah, terutama di daerah-daerah yang masih membutuhkan spesialisasi tertentu.

Pengabdian minimal 2 tahun sebagai PNS

Sebagai PNS, seseorang tidak bisa langsung mendaftar atau mengajukan diri untuk disekolahkan. Ada kewajiban bekerja minimal 2 tahun sebagai PNS sebelum kita bisa mendaftar atau mengajukan diri. Hal ini termasuk dalam persyaratan.

Jika dihitung dengan masa bekerja sebagai CPNS selama 1 tahun, maka butuh waktu minimal 3 tahun untuk kemudian dapat mendaftarkan untuk disekolahkan.

Proses seleksi yang bertahap

Untuk dapat melanjutkan pendidikan, akan dilakukan seleksi di tingkat daerah kita. Bila kita lolos seleksi, baru kita bisa mendaftar PPDS di Universitas yang dituju.

Beruntungnya, seleksinya setingkat daerah. Bisa dibilang hanya bersaing dengan sesama PNS di daerah yang sama. Dan, menjadi PNS tugas belajar memberi peluang lebih besar untuk lolos di seleksi PPDS Universitas yang dituju.

Yang jelas, kita harus siap telinga dan siap mata untuk menjaring informasi dibukanya seleksi pendaftaran di daerah kita. Karena tidak jarang informasi sampai H-1 penutupan pendaftaran. Di sinilah pentingnya networking ke teman-teman sesama PNS dan teman-teman yang memangku jabatan.

Kembali bertugas ke daerah PNS

Karena statusnya sebagai PNS, maka seorang PPDS yang juga PNS pasti akan kembali ke daerah PNS masing-masing. Apalagi studi PPDS yang diberikan bertujuan untuk mengisi kebutuhan daerah akan spesialisasi tertentu. Maka penempatannya pasti sesuai dengan RSUD yang membutuhkan.

Kalau ngga mau kembali, mau ngga mau harus melepaskan status PNS-nya. Sudah tau kan melepaskan status PNS itu seperti apa? hehehe

Baca juga  #maujadippds: Obstetri dan Ginekologi! And the truth behind

Kira-kira seperti itu teman-teman, lika-liku menjadi PPDS jalur PNS. Yang jelas memilih jalur ini memiliki kelebihan dan juga kekurangan tersendiri. Namun semua bergantung kepada tujuan dan prioritas teman-teman sekalian.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: