Mindset dr. Umum vs dr. Spesialis? Apa bedanya?

mindset dokter

Pernah melihat utas yang dituliskan oleh akun @ardi_tama1 ini? Memang mindset dokter ada bedanya ya? Yuk mari kita diskusikan.

Pada utas tersebut diceritakan bahwa beberapa fakultas kedokteran di Indonesia masih memiliki mindset mencetak calon dokter umum, bukan dokter spesialis. Kenapa? Karena materi belajar di beberapa FK mengedepankan ketrampilan klinis ketimbang penelitian.

mindset dokter

Sementara FK yang mendidik calon spesialis dianggap lebih mengedepankan mindset dan alur berpikir. Lebih mendukung kegiatan penulisan ilmiah hingga soft skills melalui berbagai kegiatan organisasi yang nantinya akan bermanfaat ketika mendaftar PPDS.

Jenjang spesialisasi sedianya adalah sebuah jenjang profesi, bukan akademik, dimana seorang dokter akan dididik untuk lebih mumpuni kemampuannya dalam menangani pasien di satu bidang spesifik. Tapi ada yang membedakan seorang spesialis dalam mendalami skill-nya.

Seorang spesialis akan mengedepankan kaidah saintifik, evidence based, dalam mengembangkan kemampuan klinisnya. Tidak serta merta hanya mempelajari skill tertentu, tetapi memahami dasar skill tersebut hingga ke prospek pengembangannya ke depan.

Katakanlah seorang dokter spesialis penyakit dalam memiliki skill untuk terapi DM type 2 dengan berbagai macam kombinasi obat sampai insulin. Tapi apakah selamanya dokter spesialis akan mengobati DM tipe 2 dengan obat dan insulin saja? Ketika ada kelas obat baru untuk terapi DM tipe 2 seperti SGLT2 inhibitor, apakah si dokter akan menggunakannya?

Tentu dokter spesialis tersebut akan mempelajari kembali, apakah bukti-bukti sudah cukup menjelaskan bahwa obat tersebut aman? Apakah obat tersebut terbukti dapat membantu mencapai target terapi? Kemana mencari tahunya? Tentu ke jurnal dan publikasi sesuai kaidah ilmiah.

Sama halnya dengan bidang kardiologi yang dulu menolong pasien dengan myocard infarction melalui tindakan by pass surgery. Sekarang, pasien tersebut bisa ditolong dengan tindakan minimal invasive. Bagaimana mengembangkan tindakan minimal invasive? Tentu dengan melalui tahapan-tahapan ilmiah dan dibuktikan kemanjuran serta keamanannya secara ilmiah.

Baca juga  Berpindah haluan: itu wajar! Karena manusia berproses

Ketrampilan klinis tentu penting untuk jenjang profesi. Tetapi, akan berkembang kemana skill tersebut tanpa mindset dan alur berpikir yang saintifik? Masa iya mengobati diabetes dari dulu sampe sekarang caranya sama terus?

Tanpa mindset dan alur berpikir yang saintifik, profesi spesialistik–yang harapannya akan semakin spesialistik, semakin berkembang ke dalam di bidangnya–tidak akan berkembang.

Bagaimana membentuk mindset dan alur berpikir? Ini bukan perkara bisa dipelajari sesaat. Ini adalah sesuatu yang harus dibentuk sejak dini, yaitu sejak di jenjang perkuliahan. Caranya? Ya salah satunya dengan banyak terlibat dalam kegiatan penulisan ilmiah. Karena menulis karya ilmiah membutuhkan mindset dan alur berpikir yang ilmiah juga.

Jadi, dewasa ini kualitas FK memang perlu menitik beratkan pada kualitas saintifiknya juga. Karena kalau hanya skill saja, kita punya perawat dan teknisi. Tapi kita butuh reasoningnya juga. Scientific reasoning.

Jangan heran juga kalau ternyata teman-teman dari FK yang aktif secara saintifik ternyata memang menghasilkan dokter-dokter yang memiliki mindset dan alur berpikir yang lebih mudah berkembang dan menerima kemajuan, ketimbang yang hanya.

Sekarang tau kan kenapa ujian ilmiah ada dalam seleksi PPDS?
But again, some people are destined to be a skillful GP.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: