Mendaftar S2 vs S3 di Luar Negeri: Bedanya Apa?

mendaftar master atau phd

Ketika kita ingin lanjut ke jenjang pendidikan berikutnya, pasti pertanyaan ini terlintas: what’s the first step? Tentu saja, mendaftar S2 atau S3 di sekolah/jenjang pendidikan yang diinginkan. Untuk jenjang spesialisasi, tentu kita mempersiapkan persyaratan dan segera mendaftar ketika jadwal pendaftaran dibuka. Apakah sama dengan mendaftar jenjang S2 dan S3? Yuk kita cek.

Mendaftar S2/Magister/Master

Langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah mencari program yang tepat. Jadi, kita bisa mulai browsing melalui internet dan mencari universitas yang memiliki program magister/master sesuai keinginan kita. Misalnya interest kita adalah public health, maka mulailah mencari program magister/master yang sesuai keinginan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa universitas-universitas top di dunia pasti memiliki program yang berkualitas. Jadi, mulailah mengincar program di universitas-universitas top dunia. Mulailah melihat universitas dengan ranking terbaik, dan carilah apakah program incaranmu termasuk di dalamnya.

Tiap program di tiap universitas memiliki requirements masing-masing untuk pendaftaran, seperti transcript, CV, esai, dan sebagaimacamnya. Pelajari persyaratannya dan segera mulailah mempersiapkan aplikasi tersebut. Pendaftaran dilakukan langsung ke pihak universitas. Untuk universitas top, persiapkan waktu yang cukup, karena butuh persiapan yang matang untuk bisa diterima di universitas top. Jangan lupa untuk mencatat tanggal pendaftaran dan submit-lah semua dokumen pada waktu yang di tentukan. Selanjutnya tinggal tunggu pengumuman.

Ada dua macam kriteria penerimaan yang dikenal dengan conditional offer dan unconditional offer, dimana pada unconditional offer biasanya persyaratan kita sudah terpenuhi semuanya, jadi kita tinggal masuk ke program impian kita. Sementara pada conditional offer biasanya kita masih harus melengkapi beberapa persyaratan sebelum bisa benar-benar diterima, misalnya mereka membutuhkan statement of sponsor, atau mereka mengharuskan kita lulus ujian tertentu.

Baca juga  Platform SATUSEHAT Kemenkes dan Big Data: Peluang bagi dokter?

Bila kita menjadi penerima beasiswa pemerintah asing, proses mendaftar S2 ini biasanya sedikit banyak akan dibantu oleh provider beasiswa. Sehingga peran beasiswa disini cukup penting untuk memastikan keberhasilan kita diterima di program tertentu.

Sedikit gambaran tentang program master di UK, bisa dibaca di sini.

Bagaimana dengan S3/Doktoral/PhD?

Berbeda dengan jenjang master/magister yang bergantung pada program yang dimiliki universitas, jenjang doktoral/PhD sangat bergantung pada topik penelitian yang ingin kita kembangkan. Bukan sekedar bidang atau program, tapi spesifik ke suatu topik.

Kalau di jenjang master/magister kita akan mulai mencari program-program di universitas top, maka di jenjang doktoral/PhD kita harus mencari ahli di bidangnya plus laboratorium yang memiliki riset sesuai interest kita. Jadi, bukan penerimaan universitas disini yang kita pikirkan, tapi spesifik ke “siapa” yang bersedia menerima kita.

Nah, “pendaftaran” di jenjang doktoral/PhD sifatnya lebih person-to-person, karena kita harus melakukan pendekatan langsung kepada calon supervisor kita ini. Berbeda dengan jenjang master/magister dimana universitas menentukan penerimaan kita, di jenjang doktoral/PhD semuanya bergantung pada keputusan calon supervisor kita ini.

Untuk melakukan pendaftaran ke supervisor, biasanya ngga cukup hanya formulir, CV, transkrip, dan semacamnya, tapi juga dibutuhkan “ujian” wawancara, baik secara daring maupun luring. Di situ supervisor akan menilai kesiapan kita dan melihat kecocokan pandangan kita dengan visi dari laboratorium tempat kita mendaftar.

Kalau supervisor sudah memberikan “lampu hijau”, maka pendaftaran ke pihak universitas akan lebih mudah. Supervisor akan membantu proses penerimaan di tingkat fakultas dan universitas.

Makanya, pada jenjang doktoral/PhD, rangking universitas kadang tidak terlalu bermakna, karena kita tidak membuat keputusan berdasarkan universitas, melainkan berdasarkan topik riset dan laboratorium yang mendukung. Meskipun, para ahli banyak yang bekerja pada universitas top dunia juga, tapi tidak menutup kemungkinan para ahli yang bekerja di universitas lain.

Baca juga  #maujadippds: THT-KL! A Physician and a Surgeon!

Dibandingkan mencari rangking universitas, mencari info tentang calon supervisor dan laboratorium incaran menjadi lebih penting, karena sangat menentukan penerimaan maupun kelulusan nantinya. Sehingga penting untuk kita mencari tahu dari para alumni. Sedikit informasi tentang S3, bisa dibaca di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: