PPDS di Jerman: Pendidikan Kedokteran ala Eropa

PPDS di Jerman

Siapa tidak kenal negara Jerman? Salah satu negara di Eropa yang cukup ternama dalam bidang kedokteran. Negara ini juga bisa menjadi salah satu negara tujuan untuk melanjutkan pendidikan spesialis. Memangnya seperti apa rasanya PPDS di Jerman?

Mari kita bertanya pada dr. Lola Fedora, dokter lulusan Universitas Atma Jaya yang kini melanjutkan pendidikan spesialis dermatologi dan venereologi (Dermatologie) di Jerman!

Mengapa memilih untuk PPDS di Jerman?

Dokter yang akrab dipanggil dr. Lola ini memutuskan untuk lanjut di Jerman karena besarnya support baik dari keluarga maupun senior satu almamater yang sudah lebih dulu melanjutkan program PPDSnya di Jerman.

“Apalagi spesialis di Jerman sangat obyektif, tidak melihat background kita dari bangsa mana, lulusan universitas mana, sistem pendidikannya cukup fair. Itu yg membuat saya lebih tertarik untuk spesialis di sini,” jelas dr. Lola.

Saat ini dr. Lola sedang menjalani tahun ketiganya di bidang Dermatologie yang secara umum memiliki durasi studi selama 60 bulan.

Apa saja persiapan yang diperlukan untuk lanjut PPDS di Jerman?

“Paling penting, persiapan Bahasa Jerman yg bagus baik itu menulis, mendengar dan berbicara” ujar dr. Lola. 

Untuk bidang kedokteran di Jerman memang dituntut level bahasa yang tinggi (level C1). Selain itu, dengan berbahasa Jerman yg baik, menurut dr. Lola, warga Jerman akan lebih respect, dan akan memudahkan kita untuk membaur.

Dr. Lola sendiri melakukan persiapan bahasa sejak selesai internship selama satu tahun. Dan ini bisa berbeda antara satu orang dengan yang lain.

Baca juga  Program Adaptasi Dokter Spesialis Lulusan Luar Negeri: Seperti apa?

Yang kedua adalah persiapan dokumen yang harus dilegalisasi. “Tahap ini membutuhkan waktu dan tentunya biaya yg harus disiapkan” tambahnya. Terkait biaya, kita juga harus mempersiapkan cukup biaya awal di Jerman sebelum mulai proses mendaftar.

Bagaimana alur mendaftar sebagai PPDS?

Menurut dr. Lola, tahap pendaftaran PPDS ini cukup tricky dan memakan waktu yang tidak sebentar. Sebab dokter lulusan luar Jerman harus menjalani ujian penyetaraan atau Aprobasi yang waktu tunggu ujiannya berbeda-beda untuk tiap negara bagian (Bundesland), sekitar 1-2 tahun.

Untuk alur pendaftarannya sendiri, pertama, calon PPDS harus mengirimkan dokumen untuk aprobasi di suatu negara bagian (Bundesland). Selanjutnya dokumen tersebut akan dikirimkan ke asosiasi dokter di wilayah tertentu (Ärztekammer) yang nantinya akan mengirimkan undangan untuk ujian Fachsprachprüfung (FSP) atau ujian bahasa medis.

Setelah lulus FSP, calon PPDS dapat melamar bekerja di RS sambil menunggu ujian aprobasi. “Sampai sini belum terhitung residensi. Ini kita baru bekerja dengan Berufserlaubnis (BE) atau ijin kerja sementara sebagai observer. Tujuannya di sini kita bisa mengenal sistem kesehatan di Jerman, sambil bekerja dengan mendapat gaji” jelas dr. Lola. 

“Selama bekerja dengan Berufserlaubnis, kita akan didampingi oleh dokter senior, konsulen, dan kepala bagian, jadi jangan khawatir, kita bisa bertanya dan diskusi selama bekerja”. Menurutnya, selama menjalani BE, dr. Lola mendapat banyak ilmu dan kesempatan untuk mengikuti seminar/workshop gratis yang bermanfaat.

Setelah kita lulus ujian aprobasi, barulah kita dianggap setara dengan lulusan pendidikan dokter di Jerman, dan kemudian dapat mengambil residensi yang sifatnya hospital-based di negara bagian tersebut.

Bagaimana dengan keuangan?
“Untuk keuangan sih selama belum bekerja ya berarti menggunakan simpanan dari Indonesia. Ketika ke Jerman Kita juga diminta deposit uang Kita di Bank Jerman yg bisa diambil per bulan dgn limit tertentu. Setelah bekerja dgn Berufserlaubnis, untuk hidup sebagai dokter di Jerman sudah cukup,” jelas dr. Lola.

Baca juga  Dokter Diaspora Indonesia: Kenapa tidak kembali ke tanah air?

Bagaimana proses pendidikannya?

Lanjut ke halaman berikutnya

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: