#maujadippds: kedokteran Okupasi! Dokter-nya perusahaan!

PPDS Okupasi

Pernah denger kedokteran kerja? Pernah denger ada spesialisasinya ngga? Kalo belom denger, yuk kita cari informasi tentang spesialis kedokteran okupasi!

  • Prodi Kedokteran Okupasi eksklusif hanya ada di UI. 

  • Lama studi: 4 atau 6 semester. Untuk yang melanjutkan dari magister (4 semester) dan untuk yang langsung masuk dari S1 (6 semester). Penerimaannya ada 2 kali per tahun. 

  • Biaya studi: 12,5 juta per semester dengan sumbangan 22 juta. 

Apa itu kedokteran okupasi?

Menurut dr. Ratih Sumarat, MKK, PPDS Okupasi, kedokteran okupasi adalah ilmu kedokteran yang berfokus pada kesehatan komunitas pekerja baik dari sisi promotif, preventif sampai ke rehabilitasi.

Lingkupnya sendiri mulai dari surveillance, penegakan diagnosis penyakit akibat kerja, rehabilitasi sampai ke program kembali kerja atau return to work pada pekerja yang mengalami kecelakaan kerja.

Dokter spesialis okupasi tentu saja berbeda dengan dokter perusahaan, sementara dokter perusahaan/klinik perusahaan hanya terbatas mengobati karyawan hingga penyakit tersebut sembuh.

Fungsi dokter okupasi lebih luas lagi termasuk bekerja sama dengan dokter spesialis terkait penyakit yang timbul pada pekerja, membuat program-program terkait penyakit akibat kerja, menentukan apakah pekerja tersebut boleh kembali bekerja, dan mencegah bagaimana penyakit tersebut tidak terulang lagi.

Dalam bekerja, dokter okupasi tidak hanya memikirkan dari sisi pasien saja, tetapi juga dari sisi perusahaannya. 

Kenapa kedokteran okupasi?

Dokter spesialis okupasi muda, dr. Marsen Isbayuputra, Sp.Ok, menjelaskan bahwa salah satu keuntungan dari bidang ini adalah kesempatan untuk jalan-jalan sambil bekerja, misalnya business trip, yang bertujuan untuk mengetahui kondisi real pekerja di lapangan dan menilai bahaya potensial kesehatan di tempat kerja. “kerjaan selesai, bisa disambung jalan-jalan sebelum kembali ke tempat asal,” tambahnya.

Baca juga  Habis internship langsung ambil PhD: Harus bayar sendiri? Bisa!

Hal yang sama dirasakan juga oleh dr. Ratih, “Karena tergantung perusahaan tempat kerja, misalnya kalo bekerja di perusahaan yang site-nya di Algeria, jadi bisa sambil jalan-jalan ke gurun sahara” jelas dr. Ratih.

Selain itu, kedokteran okupasi juga tergolong lebih santai dibanding dengan spesialisasi lain, tidak ada jaga malam, dan jam kerja teratur.

Secara pribadi, dr. Ratih tertarik karena pernah berkerja selama setahun di klinik yang 80% pasiennya merupakan pasien medical check up untuk karyawan perusahaan, kemudian melanjutkan pekerjaan di salah satu perusahaan perminyakan.

Di perusahaan industri besar seperti perminyakan, gas atau pertambangan, kesehatan kerja sangat diperhatikan, sehingga masa bekerja ini memberi banyak pengalaman bagi dr. Ratih terkait kesehatan kerja, “Disini dokter perannya mencegah, gimana caranya pekerja tidak sakit, bukan mengobati.

Kalo clinic visitnya tinggi, berarti performance kerja kita kurang bagus”, sehingga promotif dan preventif menjadi poin yang paling penting. Termasuk membuat program untuk pencegahan terhadap paparan bahan kimia tertentu. 

Bagaimana pendidikan dokter spesialis okupasi?

Di prodi kedokteran okupasi, ada dua jenis kelas, kelas reguler dan kelas khusus. Kelas khusus diperuntukkan bagi lembaga-lembaga yang sudah bekerja sama dengan FK UI, misalnya dari SKK Migas atau BPJS ketenagakerjaan, sementara dokter yang tidak terikat afiliasi dengan lembaga tertentu, maka masuk dalam kelas reguler.

Untuk kelas reguler sifatnya full-time, seperti PPDS pada umumnya dengan stase yang dilakukan di RS jejaring, sementara untuk kelas khusus pendidikan dilakukan di tempat kerja masing-masing, alias sambil bekerja, sehingga stase pun bisa dilakukan di tempat kerja, tanpa harus ke RS. 

Kompetensinya termasuk basic kesehatan kerja, kemudian ada stase-stase seperti stase di oftalmologi, THT, kardiologi, pulmonologi, rehabilitasi medik, dan sebagainya. Perbedaannya, PPDS okupasi akan melakukan anamnesa okupasi pada pasien tersebut, untuk melihat ada hubungan dengan kerja atau tidak. Kemudian ada juga stase ke industri kecil, menengah, besar dan juga ada stase K3 di rumah sakit. 

Baca juga  The Life of PPDS Mom

Selain spesialisasi, ada juga S2 kedokteran kerja atau magister kedokteran kerja (MKK). Untuk magister, proses kuliah bisa disambi dengan kerja, karena perkuliahan bisa dilakukan pada hari jumat-sabtu.

Perbedaan mendasar antara S2 dan spesialisasi adalah kompetensinya, dimana S2 lebih ke arah manajemen, preventif, dan promotif, sementara spesialis lebih ke klinis, “jadi lebih ke penyakit akibat kerja, termasuk mencegah, mendeteksi dini, mendiagnosis, dan pelaporan untuk penyakit akibat kerja, karena berhubungan dengan kompensasi, yang menjadi salah satu poin penting untuk dokter spesialis okupasi” jelas dr. Ratih.

Prospek?

Saat ini, dokter spesialis okupasi masih banyak dicari, “apalagi perempuan, dan mau ditempatkan di site” jelas dr. Ratih. Selain bekerja di perusahaan, dr. Ratih juga menambahkan bahwa seorang spesialis okupasi tetap bisa bekerja di RS, misalnya di RS yang bekerja sama dan memegang karyawan perusahaan tertentu di kawasan industri tertentu.

Spesialis okupasi juga bisa bekerja di beberapa medical provider/klinik yang menyediakan layanan medical check-up untuk karyawan perusahaan. Karena kebutuhan dalam pemeriksaan karyawan bisa berbeda, bergantung dengan lokasi kantor atau site.

Diluar itu, menurut dr. Marsen, spesialis juga bisa bisa menjadi seorang business owner, misalnya dalam bidang penyedia jasa K3. Tidak ketinggalan, pilihan karir di bidang pendidikan seperti menjadi dosen atau menjadi peneliti juga masih terbuka lebar. 

Kalau ingin mendaftar?

 Yang terpenting adalah memenuhi syarat SIMAK UI. Pesan dr. Ratih, “Sebaiknya bekerja dulu di industri atau perusahaan sehingga uda dapet feel-nya. Sama seperti kalau kita magang di departemen. Biar tahu apa yang akan dipelajari. Itu bisa menjadi modal”.

Untuk ujian, baik dr. Ratih dan dr. Marsen setuju untuk mengutamakan memperoleh nilai bagus pada SIMAK UI, “sebab itu merupakan ujian yang bobotnya besar dalam menentukan seseorang calon PPDS diterima atau tidak,” jelas dr. Marsen. Selanjutnya akan ada tes tertulis, materi tentang kedokteran kerja dan bahasa Inggris.

Baca juga  #maujadippds: Ilmu Kesehatan ANAK! The wave of millennial generation

Menurut pengalaman dr. Ratih, tes tertulis biasanya terdiri dari satu soal essay, misalnya mengenai penegakan diagnosis akibat kerja, dan soal jawaban singkat yang lumayan sulit untuk orang-orang yang belum ada gambaran tentang kedokteran okupasi, “jadi sebaiknya ada pengalaman kerja, dan juga ikut Hiperkes” tukas dr. Ratih. Dan yang terakhir, “Jangan lupa luruskan niat,”

Jadi, tertarik bergabung menjadi spesialis okupasi?

2 thoughts on “#maujadippds: kedokteran Okupasi! Dokter-nya perusahaan!

  1. terima kasih informasinya..
    ijin bertanya, untuk ketentuan program kelas khusus PPDS Okupasi di UI apa saja syaratnya, dok? apa perbedaannya dengan kelas reguler?
    terima kasih

    1. Seperti yang dijelaskan dalam artikel, kelas khusus adalah jalur khusus untuk dokter yang sebelumnya sudah mengambil S2 Kedokteran Okupasi, atau dokter perusahaan yang menjalin kerjasama dengan FK UI. Syaratnya tergantung pada jalurnya, apakah jalur khusus dengan riwayat S2 Kedokteran Okupasi sebelumnya, atau dokter umum dengan pengalaman kerja di perusahaan tertentu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: