#maujadippds: Farmakologi Klinik! Yes klinik, yes struktural


Pernah dengar spesialis farmakologi klinik? Buat yang belum tau dan pingin cari tahu, baca dulu artikel dari tim #maujadiapanih ini! Siapa tau, disitu peluang masa depanmu! Yuk mari kita kenalan dengan prodi Farmakologi Klinik

  • Prodi ini eksklusif hanya ada di UI

  • Lama Studi 7 semester. 

  • Biaya Studi: BOP (Bantuan Operasional Pendidikan) 15 juta dengan dana pengembangan 25 juta

Kenapa Farmakologi Klinik?

dr. Jefman Efendi Marzuki, salah satu residen program pendidikan dokter spesialis Farmakologi Klinik menjelaskan alasannya bergabung dengan prodi yang tergolong baru ini, “Farmakologi Klinik buat saya merupakan salah satu jawaban atas kebutuhan pelayanan kesehatan di masa kini dan masa yang akan datang”. Menurutnya, kendali mutu dan kendali biaya dalam pelayanan kesehatan sangat dibutuhkan, seperti formularium rumah sakit sebagai “gudang senjata” yang disiapkan bagi para dokter untuk berperang. Dokter Spesialis Farmakologi Klinik akan menjadi jembatan antara fungsional, manajerial rumah sakit, dan regulator. Hal ini juga dibenarkan oleh sejawatnya, dr. Mario Abet Nego yang menjelaskan tentang peran dokter spesialis farmakologi klinik di rumah sakit, yaitu satu kaki di fungsional dan kaki lainnya di manajerial. “untuk dokter yang berminat dengan pekerjaan fungsional dan manajerial, prodi ini akan sangat cocok” ungkapnya. 

Selain itu, dr. Jefman meyakini bahwa konsep “personalized medicine” merupakan konsep pelayanan kedokteran yang harus dilakukan, “yaitu setiap individu akan diberikan pengobatan sesuai karakteristik individu masing-masing” jelasnya.

Apa itu Farmakologi Klinik?

Pertimbangan safety, efficacy, suitability, dan cost berperan penting dalam tatalaksana pasien. Hal inilah yang dipelajari di bidang farmakologi klinik. Berdasarkan penjelasan dr. Jefman, salah satu faktor yang berpotensi mempengaruhi respon obat adalah perubahan farmakokinetik pada populasi khusus, seperti penyakit kritis, obesitas, disfungsi organ tertentu, perubahan fisiologis, dan lainnya. “Dalam pandangan saya, farmakologi klinik mampu memberikan pertimbangan terkait hal tersebut. Optimalisasi pengobatan dengan meningkatkan efektifitas serta memperkecil potensi efek yang merugikan menjadi salah ekspertise yang akan dimiliki oleh clinical pharmacologist” ujar dr. Jefman. 

Baca juga  Beasiswa PPDS di luar negeri: Ada?

Proses pendidikan di Farmakolgi Klinik?

“Untuk Proses studi dibagi menjadi 2, pengayaan dan stase klinik. Saat pendidikan, belum ada sistem jaga” jelas dr. Jefman, “Stase klinik itu terdiri dari beberapa stase yang mengharuskan kami ke departmen lain untuk mengikuti kegiatan ilmiah dan pelayanan. Walaupun, belum memberikan asupan SOAP secara langsung dalam rekam medis”. Selain itu, terdapat stase seperti stase KOT (Komite Obat dan Terapi) untuk melakukan analisis terapi obat, analisis potensi interaksi obat, dan monitoring efek samping dalam upaya meminimalkan potensi yang merugikan dari pengobatan. Selain itu, kami juga mengikuti kegiatan PPRA (Program Pengendalian Resistensi Antimikroba).

Prospek Cerah?  



Meskipun masih banyak orang yang masih belum mengenali peran spesialis farmakologi klinik, dr. Jefman mengatakan bahwa di masa depan, peran farmakologi klinik harusnya akan banyak dilirik, apalagi mengacu pada salah satu instrumen akreditasi seperti SNARS (Standar Nasional Akreditasi RS Indonesia) dan akreditasi JCI (Joint Commission International). Berdasarkan informasi dari dr. Jefman “Beberapa alumni sudah “established” dengan baik di beberapa rumah sakit”. dr. Mario Abet Nego juga menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan di era jaminan kesehatan nasional (era B**S) memberikan kesempatan kepada dokter spesialis farmakologi klinik untuk berperan dalam kendali mutu dan kendali biaya, “dokter spesialis farmakologi klinik dapat memberikan pertimbangan terapi yang efektif, aman, suitability, dan memenuhi aspek farmakoekonomi. Hal ini bertujuan agar lama rawat inap tidak memanjang, sehingga biaya perawatan pasien tidak melebihi tarif INACBGs yang telah ditetapkan”. dr. Mario juga menambahkan bahwa “Selain bekerja di RS, seorang spesialis farmakologi klinik dapat berkecimpung di dalam industri farmasi untuk research and development obat, regulator obat seperti BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), dan staf pendidik/peneliti di universitas”.

Baca juga  #maujadippds: Obstetri dan Ginekologi! And the truth behind

Tapi….

Untuk yang mau bergabung dengan PPDS farmakologi klinik, yang paling utama adalah untuk mempersiapkan tes SIMAK UI, termasuk tes bahasa inggris dan tes psikologi. Untuk tes tertulis dr. Jefman berpesan untuk mempelajari tentang aspek dasar farmakologi seperti farmakokinetik dan farmakodinamik, dan tentang riset/uji klinis secara umum. dr. Mario berpesan “Untuk wawancara, yang penting jujur mengenai alasan ketertarikan terhadap program pendidikan dokter spesialis Farmakologi Klinik. Untuk dokter baru, jangan khawatir karena pengalaman kerja memang disarankan, namun tidak wajib, begitu pula dengan rekomendasi.” Terakhir, pesan dari dr. Jefman, “Just do the best and let God do the rest.”

Jadi, siap menerima tantangan baru sebagai dokter farmakologi klinik?


Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: