#maujadippds: Obstetri dan Ginekologi! And the truth behind

Berikutnya tim #maujadiapanih akan membahas salah satu prodi yang bisa dibilang all-time favorit nih. Dari dulu ditagihin melulu postingnya. Beruntuk kali ini ada dua orang narsum yang mau berbagi alkisahnya seputar prodi tersebut, apalagi kalau bukan prodi Obstetri dan Ginekologi alias Obgyn! Yuk kita kenalan lebih dalam dulu yuk

Semua center punya prodi Obgyn! Dari 16 center yang terdaftar di direktori BAN-PT/LAMPTkes, semuanya punya prodi obgyn lho!

Lama Studi 8-9 semester. Rata-rata berkisar di 8 semester, walaupun beberapa center besar seperti UI, UGM, dan UNAIR berkisar di 9 semester.

Biaya Studi: SPP 6-24,5jt/semester dengan sumbangannya mencapai 102 juta. SPP terendah seperti biasa, ada di UNS (6), UB (9+) dan UNAIR, sementara termahal ada di UNPAD (24,5). Sumbangan terendah ada di UNDIP (20), UNPAD (25) dan UNLAM (25), sementara tertinggi di UNS (102), UI (69) dan UB (65+). Sementara UGM dan UNUD menggunakan system UKT, USU menggunakan system DKA. UNAND, UNRI, UNSRI, UNHAS dan UNSRAT informasinya belum diketahui.

Kenapa prodi obgyn?

Buat dr. Erna Ashlihah, Sp.OG, spesialis obgyn yang belajar dari center UGM ini, obgyn erat kaitannya dengan kesehatan perempuan. Memperjuangkan kehidupan seorang ibu utamanya dan membantu keberlangsungan hidup dua nyawa yaitu ibu dan anak, dan membantu dlm proses menciptakan generasi masa depan yg terbaik merupakan hal-hal yang membuat dr. Erna tertarik. Hal ini sejalan dengan dr. Dewi Ayu A. P., PPDS UNAIR yang beranggapan bahwa obgyn tidak hanya tentang ibu melahirkan saja, tapi juga mempersiapkan generasi masa depan.

Baik dr. Erna dan dr. Dewi pun sepakat bahwa di bidang obgyn, baik Tindakan dan ilmu medis-nya seimbang, “Secara personal aku suka tindakan tetapi masih bisa komunikasi banyak dengan pasien di poli,” tambah dr. Erna. Ketika bekerja di poli pun pasien umumnya periksa dengan perasaan senang, bukan periksa hanya jika dalam kondisi, sakit misalnya ketika mau periksa ANC, “harapannya pengen orang itu bahagia ketika periksa, jadi bukan mengharap orang sakit,” lanjut dr. Erna.

Baca juga  #maujadippds: Andrologi! Bukan cuma reproduksi pria!

Prospek cerah?  

Seorang spesialis obgyn jelas umumnya bekerja di RS yang memiliki kamar operasi. Menurut dr. Dewi, peluang untuk dokter obgyn masih luas, karena persebaran spesialis obgyn masih belum merata. Masih banyak daerah yang membutuhkan sosok dokter obgyn, sementara di kota-kota besar jumlahnya sudah lebih dari cukup. Hal ini juga didukung oleh dr. Erna yang melihat banyaknya jumlah spesialis obgyn di kota besar, “Kalo di Jawa relatif sudah cukup jumlahnya, mungkin masih ada beberapa daerah yg masih membutuhkan spog, tapi relatif sudah merata penyebarannya. Kalau di luar jawa masih ada daerah yg sangat membutuhkan spog, oleh karena itu ketika mau masuk PPDS obgyn terutama di ugm nanti akan ditawarkan kesanggupannya bekerja di luar jawa setelah lulus, yg dimaksudkan utk pemerataan spog,” jelas dr. Erna. Biasanya daerah seperti ini menjadi tempat pengabdian PPDS senior saat stase di luar jawa.

Secara keilmuan, ilmu bidang obgyn pun juga berkembang cukup signifikan. Banyak orang sudah mengerti topik dalam ranah obgyn, tapi temen-temen juga harus memahami bahwa obgyn bukan hanya Cuma pemeriksaan kehamilan, yang terpenting saat ini adalah screening prekonsepsi untuk kualitas kehamilan lebih baik, “Jadi sekarang juga ada metode screening utk mengurangi kejadian bayi dg kelainan kongenital misalnya,” jelas dr. Erna. Selain itu obgyn juga punya subdivisi uroginekologi yang mungkin belum banyak diketahui, yaitu semacam bagian “kosmetik”nya obgyn yang mana sekarang sudah mulai banyak dilirik di kota besar.

Tapi….

Nah, untuk tips n trik, dr. Erna punya pesan untuk yang tertarik masuk PPDS obgyn terutama center UGM, “yang paling penting motivasi untuk masuk PPDS obgyn harus kuat, bukan karena paksaan atau setengah hati. Karena perjalanannya berat. Dan juga perlu support system yang kuat, termasuk keluarga”. Jadi, sebaiknya pilih PPDS yang sesuai keinginan karena supaya bisa menjalani dengan baik. “Kehidupan PPDS Obgyn UGM dikatakan berat ya berat, capek ya capek, tp karena ini sudah mimpi ya tetap dijalani, dan selalu bersyukur karena ini sudah menjadi pilihan. Semua yg didapat selama masa PPDS itu aku anggap bekal untuk menjadi sp.OG yang hebat dan amanah, yang jam kerjanya tinggi, HP yg harus aktif 7x24jam itu melatih menjadi spog yang harus on untuk panggilan pasien kapanpun, dan banyak lg pelajaran yg didapat,” kata dr. Erna. Setali tiga uang, dr. Dewi juga berpesan agar menjalani pilihan PPDS dengan gembira, “karena sekalinya keterima, ini akan menjadi pekerjaan seumur hidup,” jelasnya.

Baca juga  Apa yang kita dapat dari jenjang S2 (atau S3)?

Untuk masalah keilmuan, dr. Dewi berpesan untuk mempelajari buku dari William dan Lange. Sementara dr. Erna berpesan untuk mempelajari basic medical science in obgyn, memaksimalkan nilai TOEFL dan PAPS (untuk UGM), serta memperkuat motivasi masuk obgyn karena akan menjadi poin pertimbangan saat ujian seleksi.

Untuk yang sudah berkeluarga, dr. Dewi berpesan agar pilihan teman-teman menjadi PPDS Obgyn harus didukung 200% oleh keluarga. Karena akan banyak mengorbankan waktu dengan keluarga, “jadi support system harus bagus” tambah dr. Dewi. Karena jam kerja PPDS madya obgyn bisa mencapai 99 jam perminggu (termasuk jam jaga). Sementara selama pandemic jam kerja dibatasi menjadi 32 jam perminggu.

Lalu, bagaimana dengan senioritas? “Senioritas tp hanya sebatas kapasitasnya masing-masing, seperti senior membimbing juniornya, begitupun junior menghormati seniornya. Ngga ada keharusan mentraktir makan senior. Malah lebih sering senior yg traktir junior” ujar dr. Erna. Bahkan, menurut dr. Erna, selama pandemi ini dibuat semacam uang makan bersama seluruh residen yang dikoordinasikan oleh dan dikelola residen junior, supaya memudahkan dalam pengadaan konsumsi jadi residen tidak repot cari makan keluar. Untuk beberapa urusan non klinis memang dikelola oleh residen junior karena umumnya residen senior sudah sibuk dengan urusan klinis, “Semua sudah ada kapasitasnya masing-masing, bukan diartikan sbgai senioritas” kata dr. Erna.

Jadi, sudah siapkah temen-temen menjadi spesialis Obgyn??

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: