Mengenal Posisi Clinical Research Associate (CRA) bagi Dokter

clinical research associate

Pernah mendengar pekerjaan dengan posisi Clinical Research Associate (CRA)? Kalau sering “jalan-jalan” di LinkedIn, pasti istilah ini sudah tidak asing lagi. Dan yang terpenting, tidak sedikit diantara mereka sebenarnya memiliki gelar sebagai MD atau medical doctor.

Sebenernya, pekerjaan seperti apakah itu CRA? Yuk mari cari tahu

Apa itu Clinical Research Associate?

Clinical Reseach Associate (CRA) adalah suatu profesi dimana para health-care professional menjalankan pekerjaan yang berhubungan dengan penelitian medis, terutama uji klinis atau clinical trial.

Posisi ini dibutuhkan diberbagai macam industri, termasuk perusahaan farmasi dan alat kedokteran, institusi medis, hingga lembaga pemerintahan yang menangani uji klinis, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di berbagai negara.

Dewasa ini, dengan berbagai macam penyakit baru yang muncul, juga berbagai macam inovasi dalam terapi dan pengobatan penyakit, uji klinis menjadi suatu ranah yang semakin banyak di dunia kedokteran. Hal ini menjadikan pekerjaan sebagai CRA akan semakin tinggi demand-nya, termasuk di Indonesia yang memiliki potensi yang besar dalam hal penelitian klinis.

Bahkan, belakangan ini, semakin banyak Clinical Research Organization (CRO) dari negara maju seperti Singapore yang memperluas pasar mereka ke Indonesia karena melihat potensi kasus klinis yang berlimpah.

Apa tugas dari Clinical Research Associate?

Tugas utamanya adalah untuk me-monitor suatu uji klinis. Hal ini meliputi pengawasan terhadap protokol uji klinis, melakukan monitoring di lokasi uji klinis, melakukan review terhadap laporan dan dokumentasi, menjaga sistem dokumentasi pada lokasi uji klinis, hingga berkoordinasi dengan pihak terkait dengan uji klinis.

Baca juga  Jadi Dokter Militer: seperti apa perjalanannya?

Seorang CRA akan terlibat dalam semua tahapan dalam proses uji klinis dan bertanggung jawab terhadap jalannya uji klinis tersebut.

Pada kondisi tertentu dimana uji klinis dilakukan di beberapa center, seorang field-based CRA akan banyak melakukan business travel dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Sementara diluar monitoring on-site, CRA dapat bekerja secara remote, baik di kantor atau bahkan work from home. Jam kerja pun cukup fleksibel.

Berapa gaji seorang CRA?

Besarnya tergantung regio tempat CRA bekerja. Di negara maju seperti Jepang dan Amerika, besaran gaji seorang CRA termasuk golongan menengah keatas.

Di Amerika misalnya, seorang CRA mendapat gaji hingga 95,000 USD per tahun atau sekitar 100 juta rupiah per bulannya. Sementara di Jepang, CRA bisa mendapat gaji 500,000-800,000 yen per bulan, atau maksimal setara dengan 90 juta rupiah per bulan.

Sementara di Indonesia, diperkirakan gaji CRA berkisar di angka 12 juta rupiah perbulan.

Apa saja skill yang dibutuhkan untuk bekerja sebagai CRA?

Beberapa skill penting yang dibutuhkan antara lain pengetahuan terkait dengan dunia medis dan farmasi (farmakologi). Selain itu, yang tidak kalah penting adalah pengetahun terkait pemeriksaan klinis dan kondisi klinis secara umum.

Sementara skill lain yang dibutuhkan dalam bekerja antara lain kemampuan komunikasi yang baik, kemampuan mendokumentasikan segala macam laporan dan mempresentasikan laporan tersebut. Karena pekerjaan yang cukup bervariasi jenisnya, maka seorang CRA harus memiliki leadership management skills yang baik juga.

Meskipun gelar S2 atau S3 dibidang sains atau kesehatan akan menjadi poin yang cukup kuat bagi calon CRA, namun, memiliki pengalaman bekerja di bidang uji klinis lebih diutamakan jika ingin bekerja sebagai CRA.

Baca juga  Dokter bekerja di International Health Agency? Seperti apa?

Apakah memerlukan sertifikasi?

Secara umum, seorang CRA harus memiliki basic knowledge di bidang Life Science dan memiliki pengetahuan dan sertifikasi Good Clinical Practice (GCP).

Selain itu, ada regulasi regional yang harus diikuti. Misalnya di Kanada, The Canadian Association of Clinical Research Specialist (CACRS) memiliki program yang disebut Clinical Research Specialist (CRS), dimana untuk mendapatkan gelar tersebut, seseorang harus lulus ujian tertentu.

Atau di Amerika, The Society of Clinical Research Association (SOCRA) memiliki program sertifikasi internasional dimana seseorang yang telah mempelajari dan lulus sertifikasi tersebut akan memiliki gelar sebagai Certified Clinical Research Professionals (CCRP®s).

Kesimpulan

Untuk teman-teman yang ingin bekerja non-klinis dengan sentuhan klinis dalam bentuk uji klinis, maka bekerja sebagai CRA adalah pilihan yang sesuai.

Apalagi untuk teman-teman yang suka penelitian, pandai mendokumentasikan temuan klinis, membuat laporan, hingga presentasi. Dengan bekerja sebagai CRA, kita bisa melakukan aktivitas penelitian tapi tetap berada di ranah klinis.

Namun harus diingat, pekerjaan sebagai CRA terkadang menuntut untuk banyak bepergian sebagai bagian dari monitoring pada situs lokasi uji klinis. Meskipun, diluar kegiatan monitoring secara langsung, sebagian pekerjaan CRA dapat dilakukan di kantor maupun dengan gaya work from home.

Untuk bisa bekerja sebagai CRA, jangan lupa untuk mencari pengalaman di bidang uji klinis sebanyak mungkin. Mengambil pendidikan S2 atau S3 juga bisa menjadi batu loncatan yang bagus.

Jadi, ada yang tertarik menjadi CRA?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: