Menjadi dokter di struktural: seperti apa sih?

dokter struktural

Bingung dan merasa ngga cocok dengan kehidupan klinis dan akademis? Jangan takut, masih ada jalur lain, dokter di struktural. Ada dr. Nur Adini R, MM, Manajer Pelayanan Medis dari RSIA Adina, RS khusus tipe C di Wonosobo, yang bakal kasih sedikit insight tentang dokter di struktural!

Kenapa terjun ke struktural?

Ternyata, dokter yang biasa dipanggil dr. Dini ini punya beberapa alasan yang spesifik, diantaranya adalah passion di bidang ini, “I love managing people, walau banyak tantangannya juga sih mengelola berbagai macam karakter dalam satu rumah sakit” ujarnya.

Tidak dipungkiri, dr. Dini pun awalnya ingin melanjutkan pendidikan spesialis. Namun karena ketidak tersediaan sekolah spesialis di tempat tinggalnya, dan melihat adanya kebutuhan dokter struktural di RS keluarganya, dr. Dini akhirnya memutuskan terjun menjadi dokter struktural.

Bagaimana dokter bisa terjun ke ranah struktural?

Hal ini tergantung dengan jenis rumah sakit yang dituju. Untuk rumah sakit pemerintah, biasanya ada jenjang karir dari status ASN di wilayah masing-masing. Sementara untuk RS Swasta, biasanya dengan proses perekrutan, baik sebagai manajer atau bahkan direktur.

“Tetapi tidak menutup kemungkinan untuk dokter yang tidak langsung mendaftar ke ranah struktural,” jelas dr. Dini, “menurut pengalaman saya, dokter umum bisa juga masuk dan start sebagai dokter IGD atau dokter bangsal sebelum kemudian masuk ke ranah manajerial seperti supervisor, kepala instalasi, manajer atau bahkan direktur”.

Menurut dr. Dini, seorang dokter dapat terjun ke ranah struktural melalui 2 jalur yang umum. Yang pertama dengan mengambil pendidikan S2 sebelumnya, “Biasanya untuk yang sudah S2 terlebih dahulu nanti akan direkrut atau diajak gitu, tidak selalu dari jalur mendaftar lowongan” jelas dr. Dini.

Baca juga  Being a Health Economist: another pathway for doctor

Bidang S2-nya juga bisa bervariasi, asal masih terkait dengan RS atau kesehatan, “Tergantung persyaratan RSnya juga. Biasanya lulusan MMR, atau MARS. Tapi ada juga M.Kes, MPH, atau bahkan MM dengan konsentrasi RS” ujarnya.

Tetapi, menjadi seorang dokter struktural juga tidak harus memegang gelar manajemen sebelumnya, “bisa juga bukan S2 tapi sudah memiliki pengalaman di manajemen RS secara praktikal sebelumnya” ujar dr. Dini.

Selain itu, adanya Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) yang mengatur tentang Rumah Sakit telah menetapkan bahwa pemilik (owner) dari RS tidak bisa memegang jabatan ganda sebagai direktur, hal ini membuka peluang bagi dokter-dokter non-owner RS untuk menempati jabatan struktural tinggi seperti direktur.

Apa serunya terjun menjadi dokter struktural?

“Yang jelas saya banyak belajar hal baru,” lanjur dr. DIni, “walaupun bekerja di luar medis, tapi akan mempengaruhi hal medis dan non medisnya juga, misalnya dalam membuat kebijakan di RS”.

Selain membuat kebijakan, dr. Dini juga juga banyak mendapat pelajaran seputar sumber daya manusia, keuangan, operasional, hingga ke urusan marketing, “karena urusan Rumah Sakit itu  bukan cuma hubungan antara dokter dan pasien saja, it’s beyond that” ungkapnya.

Selain itu, pekerjaannya di bidang struktural juga membantu dr. Dini untuk memperluas jejaring atau networking. Kini dirinya banyak mengenal orang-orang yang memegang kebijakan di level yang lebih tinggi, mengenal sesama manajer RS lain, bahkan banyak mengenal dokter-dokter spesialis senior yang siap sedia berbagi keilmuan di bidangnya.

Tetapi, banyak juga duka yang ia rasakan terutama di tengah pandemi ini, “karena sebagai manajemen kita punya tanggung jawab besar untuk karyawan yang jumlahnya puluhan sampai ratusan. Apalagi mengatur keuangan ditengah pandemi ini. Benar-benar menguras pikiran dan tenaga” tukasnya.

Baca juga  Tentang Karir Dokter yang Tidak Pernah Didapatkan di Bangku Kuliah

Adakah tips dan trik bekerja sebagai dokter struktural?

Untuk teman-teman yang ingin terjun ke struktural, dr. Dini berpesan untuk senantiasa berpikiran terbuka atau open minded, “karena banyak hal-hal yang tidak dipelajari di bangku kuliah kedokteran”. 

Karena banyak hal yang baru, dokter di struktural juga harus berkemauan untuk mempelajari hal-hal baru tersebut. 

“Selain itu, soft skill seperti komunikasi, organizing, leading dan bekerjasama dalam tim itu penting dan harus diasah terus” tambah dr. Dini. Dan, jangan lupa untuk membangun link  yang baik dengan para senior atau teman-teman struktural baik di RS yg sama atau RS lain.

Ada yang tertarik terjun ke struktural?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: