Jadi Dokter Militer: seperti apa perjalanannya?

dokmil

Buat temen-temen yang berminat meniti karir di bidang militer, nah, sekarang kita cari tau yuk seluk beluknya. Ada Lettu Laut (K) dr. Slamet Wahyudi, seorang dokter militer anggota TNI Angkatan Laut, yang kini sedang mengenyam pendidikan PPDS Penyakit Dalam di Surabaya. Seperti apa kisahnya?

Bagaimana awalnya menjadi dokter militer?

Usut punya usut, dr. Slamet memiliki ketertarikan pada jalur militer pertama kali ketika melihat adanya peluang beasiswa PPDS untuk TNI sewaktu pendidikan pre-klinik. 

“Awalnya iseng daftar dan alhamdulillah keterima” ujar dr. Slamet. Dirinya tidak pernah memilki impian untuk menjadi dokter militer (dokmil) sebelumnya. Namun nasib ternyata berkata lain, “karena sudah kecemplung, ya nyebur sekalian” canda dr. Slamet.

Seperti apa proses pendaftarannya?

Proses pendaftaran Mahasiswa Beasiswa TNI yang dinamai mabea itu diakuinya sama seperti mendaftar dokter militer (dokmil) jalur reguler, “tapi kalau mabea harus sudah terpenuhi 120 sks dulu, jadi baru bisa daftar di sekitar semester 6” tambah dr. Slamet.

Proses pendaftaran kala itu dimulai di AJENREM di Surabaya. Proses pendaftaran ini meliputi administrasi, tes kesehatan, dilanjutkan dengan tes kesemaptaan jasmani (tes fisik) dan juga tes mental ideologi. 

Tes kesemaptaan biasanya meliputi lari di lintasan 400 meter selama 12 menit , push up 1 menit, sit up 1 menit, pull-up 1 menit (semakin banyak putaran semakin baik), lari shuttle run dan juga renang 25 meter.

Sementara tes mental ideologi meliputi pertanyaan tentang nasionalisme. Misalnya seputar ideologi pancasila.

Baca juga  Dokter PNS: Sekilas tentang PNS untuk dokter

“Setelah alhamdulillah lolos semua, berarti kita dinyatakan lulus dari daerah dan kemudian dikirim ke pusat untuk tes lagi. Tesnya hampir sama, meliputi kesehatan, psikologi, kesemaptaan jasmani, mental ideologi lagi dan terakhir pantukhir, panitia penentuan akhir,  waktu itu di Lanud Sulaiman, Bandung” jelas dr. Slamet.

Apa keuntungannya menjadi Dokmil?

Selain adanya peluang beasiswa, menjadi dokmil ternyata banyak memberikan keuntungannya bagi dr. Slamet. “Apalagi AL, slogannya ‘join navy to see the world’, jadi kita bisa sambil jalan-jalan ke luar negeri naik kapal, ngga bayar dan malah dibayarin” lanjutnya lagi, “terus bisa juga gabung pasukan perdamaian PBB di berbagai negara”. 

Selain pengalamannya sebagai angkatan laut, dr. Slamet juga menyebutkan bahwa keistimewaan dokmil adalah tidak perlu bingung perihal tempat kerja selepas pendidikan. “Ngga perlu bingung kerja dimana, karena sudah ada RS nya sendiri” jelasnya.

Apalagi, selama mengenyam pendidikan PPDS, seorang dokmil akan dibiayai penuh melalui skema beasiswa dan juga tetap menerima gaji. Jadi ngga perlu bingung “mau makan apa” sepanjang masa studi!

Apa syaratnya untuk dokmil bisa melanjutkan PPDS?

“Dari pendidikan awal sampai mendaftar PPDS minimal harus dinas 4 tahun dulu. Karena sebelum mengambil PPDS kita harus mengikuti pendidikan spesialisasi perwira atau spespa. Syarat untuk spespa sendiri adalah sudah 2 tahun lettu. Jadinya memang agak lama” tukasnya.

Setelah mengikuti pendidikan spespa, barulah seorang dokmil boleh mengajukan untuk melanjutkan PPDS. “Nanti dites dulu di kementerian pertahanan (Kemenhan). Kalau dinyatakan lulus baru bisa daftar ppds” dr. Slamet menjelaskan.

Sebenernya syarat yang sama juga berlaku untuk dokmil yang hendak melanjutkan pendidikan S2 atau S3 ke luar negeri. “Pada dasarnya harus pendidikan sampai lettu 2 tahun. Terus nanti akan dites di kemenhan juga. Yang pasti sekolahnya dibiayai oleh kemenhan juga” kata dr. Slamet.

Bagaimana sistem pangkat untuk dokter militer?

“Sebenernya tergantung sekolah kemiliterannya. Letda dan lettu biasanya melalui pendidikan spespa. Kalau sudah spespa otomatis udah punya tiket sampe ke kapten dan mayor, terus dilanjutkan dengan pendidikan diklapa atau yang setara” dr. Slamet melanjutkan, “Trus kalau mau naik lagi sampai letkol atau kolonel harus sekolah sesko (sekolah staf komando) atau yg setara”.

Baca juga  Sertifikasi dokter Family Medicine International: MRCGP

Bagi dokmil yang menjalankan pendidikan PPDS, atau S2, maka pendidikan ini termasuk setara dengan diklapa, jadi seorang dokmil bisa naik pangkat setelah selesai pendidikannya. Seru kan?

Apa saja tips and trick untuk bisa jadi dokmil?

“Sebenernya tesnya sama kayak daftar tentara pada umumnya. Jadi yang penting siap fisik dan mental” kata dr. Slamet

Nah, kalau kamu, siap fisik dan mental jadi dokmil?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: