Habis internship langsung ambil PhD: Harus bayar sendiri? Bisa!

dokter internship PhD

Buat yang penasaran dengan dua pertanyaan diatas, kali ini tim punya narasumber oke, seorang dokter muda angkatan 2011 yang kini tengah menimba ilmu ada program PhD di Division of Nephrology, Department of Internal Medicine, University Medical Center Groningen, dr. Firas Farisi Alkaff.

Habis internship langsung PhD. How come?

Keinginan untuk melakukan riset dan melanjutkan studi di luar negeri (LN) tidak datang begitu saja buat dr. Firas. Sama seperti kebanyakan dokter Indonesia, dr. Firas sendiri awalnya sama sekali tidak tertarik dengan dunia riset, “saya baru tertarik saat DM, karena diajak teman untuk melakukan penelitian terkait pengaruh jaga malam terhadap atensi,” jelas dr. Firas. 

Keinginan tersebut kemudian diperkuat dengan pengalamannya ketika pertukaran pelajar ke Osaka University, “waktu akan masuk DM, saya dapat kesempatan exchange ke Osaka University” ujar dr. Firas. Pengalaman melakukan itu kemudian diikuti dengan pengalaman lain dimana dr. Firas menjadi presenter dalam acara kongres mahasiswa bergengsi ISCOMS (The International Student Congress Of (bio)Medical Sciences). 

Berkat presentasi di ajang tersebut kemudian dr. Firas mendapat tawaran untuk melakukan research internship di Groningen, “sewaktu pertengahan DM, saya memutuskan cuti 6 minggu untuk apply program research internship di Groningen” kata dr. Firas. Berkat pengalamannya selama program research internship tersebut, dr. Firas kemudian mengenal profesor yang kini menjadi supervisor dalam studi PhD nya.

Karena sudah mantab, sudah siap dengan bidang yang dituju, universitas tujuan dan bahkan sudah memiliki supervisor di negara tujuan, maka tidak sulit untuk dr. Firas melakukan persiapan keberangkatan sambil menjalankan internship, sehingga selepas internship, dr. Firas bisa langsung berangkat ke negara tujuan.

Baca juga  Dokter tapi belajar Ilmu Sosial? Bisa banget! #maujadimagister

Kenapa ambil PhD?

Kebanyakan dokter di Indonesia tentu akan memilih untuk langsung melanjutkan ke jenjang spesialis. Untuk beberapa orang yang ingin menambah pengalaman dan menambah pundi-pundi, mereka akan memilih untuk menjadi dokter PTT. Hal ini tidak berlaku untuk dr. Firas. Ketimbang menjadi dokter PTT, melanjutkan studi PhD memiliki benefit yang lebih banyak, termasuk dalam hal finansial.

Dalam webinar series FK Universitas Airlangga, dr. Firas memaparkan keuntungan mengambil PhD di luar negeri, salah satunya adalah gaji yang diperoleh selama menjalani pendidikan. Bahkan dr. Firas memaparkan bahwa tabungan yang dibawa pulang oleh seorang mahasiswa PhD lebih dari cukup untuk membiayai sekolah spesialis dan kehidupan selama menjalani spesialis lho! Selain itu dr. Firas menambahkan, seorang dokter yang sudah memiliki gelar PhD tentunya akan menjadi pertimbangan tersendiri apabila akan mengambil sekolah spesialis.

Bagaimana dengan pembiayaan? Bisakah tanpa beasiswa?

Berdasarkan pengalaman dr. Firas, gaji seorang PhD di Eropa jumlahnya lebih dari cukup untuk kehidupan sehari-hari. Bahkan dr. Firas mampu menghidupi dirinya hanya menggunakan uang housing allowance yang diberikan oleh pihak universitas, dimana allowance ini diberikan untuk setiap mahasiswa PhD yang membiayai dirinya sendiri (bukan dari beasiswa universitas tersebut–externally funded PhD) yang besarnya 656 euro. Apabila kita mengambil program PhD dengan gaji, maka gaji yang diberikan besarannya bisa mencapai 2000 euro. Tidak jarang beberapa program menawarkan pembiayaan tuition fee juga, sehingga beban semakin ringan. 

Apa yang harus saya persiapkan?

Menurut dr. Firas, hal yang pertama harus disiapkan adalah bidang yang akan kita pelajari tentunya. Apakah keahlian yang ingin kita dalami, misalnya apakah itu epidemiologi, modelling, riset in vitro maupun in vitro. Untuk bisa memahami bidang tersebut kita bisa melakukan magang dibagian yang mempelajari bidang tersebut, atau kita bisa berdiskusi dengan senior yang pernah mendalami bidang tersebut misalnya. Selanjutnya mulailah cari lowongan untuk program PhD dan carilah supervisor yang bisa membimbing kita. Lakukan pendekatan misalnya melalui e-mail. Pastikan lebih lanjut tentang program yang akan diambil, ketersediaan beasiswa juga, dan yang terakhir baru cek ranking universitas.

Baca juga  #maujadippds: Farmakologi Klinik! Yes klinik, yes struktural

Yang tidak kalah penting tentunya adalah belajar bahasa Inggris. Untuk tes bahasa Inggris, dr. Firas menyarankan untuk mengambil TOEFL iBT, karena lebih mudah dibanding IELTS, dimana TOEFL iBT tidak terlalu ketat dengan mengenai grammar ketimbang IELTS. Terakhir, jangan lupa membiasakan diri untuk bekerja dengan program statistik dan menulis jurnal.

Pesan terakhir?

“Jangan merasa minder, kita ini sebenarnya bisa bersaing di luar negeri. Jangan takut, karena orang luar negeri itu lebih bisa menghargai kita dibandingkan orang kita sendiri. Jangan naif, dan jangan terlalu idealis. Harus bisa fleksibel terhadap segala opsi yang ada” ucap dr. Firas.

Salah satu kekurangan dari para dokter Indonesia, adalah kurangnya informasi yang adekuat tentang peluang mengambil pendidikan tinggi di luar negeri. Selain itu, mindset yang kuat bahwa dokter harus langsung spesialis juga turut membuat peminatan studi PhD rendah dikalangan dokter muda. 

Harapan kedepannya, para mahasiswa kedokteran bisa dilatih keterampilan dasar dalam penelitian kedokteran seperti belajar cell culture, western blot, FACS, PCR, cutting and staining dengan berbagai jenis pewarnaan sehingga mahasiswa kedokteran sudah memiliki modal dasar untuk nantinya terjun lebih dalam ke ranah riset. “Misalnya waktu libur semesteran ada modul extra untuk ini. Jadi di CV pun bisa ditulis kan kalau memang sudah punya experience” jelas dr. Firas.

Semoga cita-cita ini bisa terlaksana! Buat kalian yang ingin bisa seperti dr. Firas, don’t just stare, start doing!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: