Bedanya S1/ S2/ S3: buat kamu para dokter baru!

bedanya s2-s3

Kalo kita ngomongin S1/S2/S3 tentu kita tidak sedang membicarakan soal profesi. Disini kita lebih membicarakan soal keilmuan kedokteran, jadi kaitannya dengan: penelitian. Nah, apa sih bedanya S1/S2/S2? Kalo saya lulus kedokteran nanti, saya lebih baik lanjut ke jenjang yang mana? Yuk sekarang mimin breakdown kan sedikit disini

beda s1-s2-s3

S1 (Undergraduate)

Yang namanya anak S1, pasti diajarin sama dosennya. Lewat kuliah, tugas, atau tes. Tugas kita sebagai anak S1 ya belajar apa yang diajarkan. Dalam hal ketrampilan, anak S1 juga dibimbing, diberikan contoh dan belajar melakukan sendiri. Jangan khawatir ngga bisa, karena anak S1 juga diawasi oleh para dosen, hingga ke jajaran dekan.

Soal tanggungjawab, bisa dibilang hampir ngga ada. Kalo kita bikin salah di tahap S1 ini, ada dosen, pembimbing, bahkan sampe dekan yang siap bertanggungjawab. Jadi, jangan takut bikin salah. Buat lah selagi ada dosen, pembimbing dan bahkan dekan yang siap pasang badan untukmu.

Tapi, kekurangannya, anak S1 biasanya belum terlalu mandiri. Ya karena ada yang mengajari, membimbing dan mengawasi, jadi ngga terlalu bebas-bebas amat.

S2 (Master/Magister)

Nah, di tahap ini udah ngga pake diajarin-diajarin lagi. Iya, memang kuliah atau coursework masih ada, tapi sifatnya “mengarahkan” aja. Anak S2 dianggap sudah mengerti sesuai jurusan masing-masing. Karena ngga ada yang namanya jurusan yang general, prodi S2 selalu menjurus ke keilmuan tertentu. Jadi, ngga mungkin donk kamu ngga tau apa-apa?

In terms of research, disini anak S2 masih mendapat bimbingan. Bisa dari sejawat S3, sejawat post-doc, atau bahkan dari supervisor. Kalau salah, ngga apa-apa. Masih ada dosen dan pembimbing yang siap membenarkan kamu. Di jenjang ini tanggungjawabmu masih dibagi dengan jenjang studi yang lebih tinggi. Jadi aman laaah.

Baca juga  Getting a PhD in Korea: in Clinical Pharmacology

Enaknya di jenjang S2 ini, kita sudah diajarkan mandiri, tapi kita juga masih bisa berpegangan sama yang membimbing dan yang mengawasi. Jenjang ini harus dimaksimalkan, karena jenjang setelah ini, bakal berubah drastis.

S3 (Doktoral/PhD)

Boro-boro diajarin, yang membimbing aja belum tentu ada! Anak S3 selalu dianggap sudah mandiri, know what they are doing, dan sudah terarah. Jadi fungsi mengajari dan membimbing dianggap sudah diperlukan, jadi hanya menyisakan guru sebagai pengawas atau supervisor saja!

Tugas supervisor bukan untuk mengajar dan membimbing, tapi hanya mengarahkan. Sifat transfer ilmunya adalah melalui diskusi, bukan kuliah atau pengajaran gitu. Sisanya? Ya mandiri donk.

Ngerinya, di tahap S3 ini kita pegang full responsibility terhadap studi kita. Mau lulus kapan, lulus seperti apa, mau dapet ilmu apa aja, ketrampilan apa aja, itu semua tergantung dengan apa yang kita pelajari dan kita lakukan selama studi S3.

Kalo di jenjang S2 masih dikejar SKS, di jenjang S3 SKS lebih sedikit, jadi kamu lebih “bebas” dalam mengendalikan studimu. Ada kelebihan, tapi juga ada kekurangannya. Kekurangannya? Kadang kita jadi kelewat bebas dan ngga awas dengan goal kita. Studi kita jadi ngga terarah.

Makanya, untuk melanjutkan ke jenjang S3, kita harus bener-bener mantep dengan tujuan kita, dengan harapan kita. Kalo ngga, ya bakal terombang-ambing dengan gilanya arus “kebebasan semu” disitu.

Jadi, sebelum melangkah ke jenjeng S1/S2/S3, jangan lupa untuk mempertimbangkan perbedaan-perbedaan ini yak!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: