Tips memilih spesialiasi buat kamu yang akan PPDS

tips memilih ppds

Pingin jadi spesialis? Iya. Tapi spesialis apa? Gimana cara memilih spesialisasi yang bener ya?

Buat sebagian orang, urusan memilih spesialisasi ngga sesimpel “aku suka jantung, jadi besok mau jadi PPDS Jantung”. Karena memilih spesialisasi juga ada banyak pertimbangan diluar “kesukaan”. Karena pada kenyataannya, banyak peserta PPDS yang setengah hati menjalani pendidikan dan akhirnya banyak mengeluh bahkan resign.

Nah, buat kalian yang ingin menemukan prodi yang cucok di hati, cucok buat masa depan, dan cucok buat hidupmu, coba yuk kita lihat poin-poin berikut ini:

Pahami dulu arti spesialisasi

Berbeda dengan dokter umum yang “tahu sedikit tentang banyak hal”, spesialisasi artinya “tahu banyak tentang satu bidang saja”.

Memilih spesialisasi artinya kita harus siap fokus ke satu hal saja. Menjadi spesialis bukan berarti kita jadi hebat dan pinter dalam segala hal ya. Bukan berarti bisa bekerja ini itu, justru pekerjaan kita bisa jadi monoton, karena hanya berkutat di satu fokus saja.

Jadi, sebelum memilih lanjut ke spesialisasi, pastikan kalau kamu memang ingin melakukan pekerjaan yang sama, terus menurus, seumur hidup. Juga harus belajar terus menerus, seumur hidup. Kalau kamu memang tidak cocok dengan seperti ini, ada baiknya memilih opsi lain. Kalau para dokter spesialis bilang, harus ada passion, yang bikin kita tetap semangat belajar dan bekerja seumur hidup.

Menjadi spesialis juga bukan berarti kaya raya. Kalau ingin kaya, ada banyak profesi yang bisa membuat kita kaya dengan lebih cepat. Karena apa yang kita dapatkan sebagai spesialis nanti adalah setara dengan risk, effort dan waktu yang kita habiskan untuk sekolah dan bekerja nantinya.

Baca juga  Penerimaan PPDS USU dan UNSRAT: Update April 2021

Apalagi spesialisasi itu karakternya sangat berbeda-beda. Coba pahami karakter prodi favoritmu disini.

Pahami tipe personality dirimu dulu!

Sebelum mengeksplor pilihan spesialisasi, ada perlunya kamu memahami diri sendiri dulu. Ngga bisa dipungkiri bahwa tipe personaliti tertentu ternyata punya kecenderungan untuk memilih spesialisasi tertentu. Jadi, ada baiknya untuk mengenali personality melalui personal assesment!

Menggunakan penilaian The Myers-Brigg Type Indicator (MBTI) , dimana tipe personaliti dibagi menjadi 16 tipe, berbagai macam riset di Amerika menunjukkan bahwa spesialisasi tertentu memiliki daya tarik bagi tipe personaliti tertentu.

Penilaian tipe personaliti ini dianggap dapat menjadi preferensi perilaku kita dalam situasi apa pun, terutama yang melibatkan orang lain, dalam hal ini termasuk kepada pasien. Sehingga bisa tipe personaliti ini dapat digunakan sebagai pertimbangan kecocokan spesialisasi.

Empat dimensi yang diukur oleh MBTI adalah Extroversion (E) versus Introversion (I), Sensing (S) versus Intuition (N), Thinking (T) versus Feeling (F), Judgment (J) versus Perception (P). Kalau kamu yang mana? Coba cek disini.

tipe personaliti dan spesialisasi PPDS

Pertanyaan yang harus dipertimbangkan sebelum memilih spesialisasi!

Berdasarkan sebuah artikel di laman Stanford University School of Medicine, sebelum memilih spesialisasi, kita harus mempertimbangkan beberapa pertanyaan berikut:

  1. Apa area saintifik/klinis yang paling menarik untuk kita? Kalau kita suka anatomi, pertimbangkan bedah atau radiologi, kalau tertarik neuroscience, pertimbangkan saraf, bedah saraf dsb, kalau suka farmakologi, pertimbangkan anastesi.
  2. Mana yang lebih menarik: surgical yang berorientasi hasil, medical yang lebih ke patient relationship (mis. Interna, Neuro, Psikiatri), atau mixed (Obgyn, THT, Ophtalmology)?
  3. Aktivitas seperti apa yang kita ingin kan? Apakah riset, mengajar, atau malah seputar kebijakan?
  4. Apakah kita suka interaksi dengan pasien? Jika tidak, coba pilih radiologi, patologi, dan semacamnya.
  5. Jika kita suka interaksi dengan pasien, tipe pasien seperti apa yang kita ingin berinteraksi? Pasien anak-anak berarti pediatri, pasien orang tua berarti interna, pasien dengan life-threatening disease misalnya bedah, onkologi, jantung, dsb.
  6. Seberapa penting work/life balance? jika menurut kita penting, pilihlah spesialisasi dengan less emergency case.
  7. Seberapa penting income? Tidak bisa dipungkiri, spesialisasi dengan tindakan bedah biasanya high-return, TAPI, jangan lupa spesialisasi tersebut biasanya juga high-cost.
tips memilih spesialisasi ppds
source: http://med.stanford.edu/content/dam/sm/md/documents/resources/Roadmap-to-Choosing-a-Medical-Specialty-.pdf

Memetakan peluang dalam memilih spesialisasi

Menurut dr. Umar Usman, Sp. BTKV melalui IGTV @cerdas.med bertajuk “Tips memilih jurusan PPDS with dr. Umar Usman, Sp. BTKV” menyatakan bahwa memetakan peluang adalah salah satu hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih spesialisasi. Misalnya?

Baca juga  #maujadippds: Penyakit Dalam! Spesialisasi sejuta umat!

Perlu kita pertimbangkan dimana kita akan tinggal dan bekerja setelah menjadi spesialis? Maka ada baiknya memilih spesialisasi yang masih jarang di daerah itu. Apalagi sekarang era pemerataan layanan spesialisasi di Indonesia.

Bahkan dengan strategi ini, kita juga bisa mendapatkan kesempatan dibiayai oleh daerah atau mendapat beasiswa, apabila spesialisasi pilihan kita memang benar-benar jarang dan masih dibutuhkan oleh daerah kita.

Intinya, pilihlah spesialisasi yang masih dibutuhkan oleh sekitar kita. Ngga melulu soal “kesukaan” kita lagi, tapi juga ke-“bermanfaatan” profesi kita kedepannya.

Kuis untuk membantu memilih spesialisasi

Nah, ternyata yang masih galau soal memilih spesialisasi ngga cuma kalian aja gaes. Banyak med student di belahan dunia yang lain juga acap kali memiliki ke-galau-an yang sama.

Untuk membantu, beberapa website menyediakan kuis atau tes untuk membantu kita memahami dan mengeksplor pilihan spesialisasi yang mungkin akan cocok dengan kepribadian kita, pola pikir, dan harapan kita. Mau coba? Cek linknya dibawah:

https://www.studentdoctor.net/schools/selector

Segitu dulu tips memilih spesialisasi kali ini. Masih yang paling dasar, tapi yang paling penting. Boleh percaya boleh ngga, boleh dicoba boleh juga di-ignore. Tapi, usahakan untuk mempertimbangkan poin-poin ini baik-baik sebelum terjun menjadi spesialis. Karena spesialisasi sifatnya seumur hidup, jadi jangan sampe menyesal!

Jangan lupa untuk cek juga durasi studi dan biaya yang perlu kamu keluarkan untuk menggapai cita-cita menjadi spesialis yak!

Sumber:

Freeman, Brian. 2004. Personality assesment: are you my type? The Ultimate Guide to Choosing Medical Specialty (pp42-43). McGraw Hill https://www.tesd.net/cms/lib/PA01001259/Centricity/Domain/344/Careers%20in%20Medicine.pdf

Stanford Medicine. 2021. Choosing a Specialty. https://med.stanford.edu/md/academic-advising/Center_for_Medical_Student_Career_Advising/choosing-a-specialty.html

dr. Umar Usman, Sp. BTKV dalam IGTV @cerdas.med bertajuk “Tips memilih jurusan PPDS with dr. Umar Usman, Sp. BTKV”

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: