#maujadippds: BEDAH! Here comes the surgery!

 Buat para pecinta tindakan medis, pasti seneng banget sama prodi yan satu ini, apalagi kalo bukan prodi Bedah umum! Nah, prodi bedah ini ternyata masih menjadi idaman terutama buat para dokter laki-laki. Mau tau lebih lanjut soal PPDS Bedah umum? Yuk mari kita kulik.

Ada 16 center Bedah se-Indonesia! Dari 17 center yang masuk dalam pencarian tim kami, termasuk UNMUL, dan hanya 1 center yang tidak punya prodi ini, UNRI.

Lama Studi 8-11 semester. UNDIP dan UNS memiliki durasi terlama, sementara UNLAM, UNPAD, UGM dan UB memiliki durasi terpendek. UNSRI, UNSYIAH, UNHAS, UNSRAT, UNUD belum kami dapatkan informasinya.

Biaya Studi: SPP per semester 9-24,5 juta dengan sumbangan tertinggi 72 juta, SPP termurah ada di UNS (6) sekaligus dengan sumbangan tertinggi (72). SPP tertinggi ada di UNPAD (24,5) dan UNUD (18), sumbangan terkecil ada di UNDIP dan UNSYIAH (20), sementara USU menggunakan DKA dan UGM dengan sistem UKT. UNAND, UNSRI, UNHAS, UNSRAT dan UNMUL kami tidak mendapat informasinya.

Kenapa prodi Bedah?

Sebagai seorang PPDS Bedah di center UNSRI, dr. Indah Utami berbagi alasannya menyelami bidang bedah yang terkesan berat ini, “Bedah memang bidang yang saya suka, gemar, ingin tahu, dan ingin bisa. Bedah juga seru, ada tantangan tersendiri”. Selain alasan tersebut, dr. Indah juga mengaku bahwa ilmu bedah tidak hanya tentang penyakit dan terapinya, tapi juga mengajarkan kita untuk menjadi dokter yang jeli, teliti, dan sensitif. Berbagai tantangan di bidang bedah juga mengajarkan dr. Indah tentang bagaimana mengambil keputusan, misalnya keputusan untuk operasi atau tidak, kapan harus berhenti dan kapan harus terus lanjut, mengajarkan untuk berani bertindak, dan sekaligus melatih mental dalam menghadapi tekanan besar, termasuk ketika berhadapan dengan kasus emergency. “Jangan lupa, bedah juga tentang skill, dimana semakin diasah akan semakin terampil,” tambah dr. Indah.

Baca juga  #maujadippds: Bedah SARAF! One of the favorite!

Salah satu PPDS dari center UNAIR, dr. Satriya Kelana juga memaparkan, bahwa bekerja di kamar operasi merupakan cita-cita dan motivasi terbesarnya untuk melanjutkan di prodi Bedah. “Selain itu ada alasan personal juga sih, beberapa keluarga ada yang nggak tertangani dengan benar saat operasi/ tidak dioperasi,” ujar dr. Satriya. 

Prospek Cerah?  

Baik dr. Indah maupun dr. Satriya sepakat bahwa seorang spesialis bedah umum maupun subspesialis bedah akan sangat terpakai dan sampai saat ini masih banyak dibutuhkan dimanapun, termasuk di daerah-daerah, “Karena RS tipe C dan B masih banyak yang belum punya dokter bedah umum organik atau yang full di RS itu”. Dr. Satriya juga menambahkan, peluang semakin besar lagi di luar jawa, termasuk di area Indonesia timur, “pasti sangat diterima,” tambahnya.

Tapi….

Untuk yang berminat masuk PPDS bedah, dr. Satriya memiliki pesan penting. Sebelum masuk bedah, pastikan untuk memantabkan niat, “kalau perlu sholat tahajud dan puasa senin-kamis  selama lebih dari 1 bulan demi dapat petunjuk. Alhamdulillah saat itu hati mantap memilih ke bedah umum. Sejak itu semua jalan rasanya dipermudah dari cari rekomendasi dan sebagainya” jelas dr. Satriya yang mengakui pernah gagal dan galau sebelum akhirnnya mantap mendaftar prodi bedah. Untuk ujian tahap pertama, dr. Satriya berpesan untuk banyak belajar, “karena materinya bisa dikuasai dengan belajar sendiri”. Untuk ujian wawancara, dr. Satriya berpesan agar tidak memberi jawaban umum yang terkesan klise, “kalau ditanya tentang motivasi, utamakan jawaban yang personal, alasan pribadi”. Berdasarkan pengalaman pribadi dr. Satriya, ujian wawancara memiliki peran yang penting, “Selain itu, jangan lupa untuk menunjukkan planning selama 5 tahun dengan jelas, termasuk dengan segala kondisi lingkungan keluarga dan keuangan” tambahnya. Untuk teman-teman yang merupakan kiriman daerah, PNS daerah, dan penerima beasiswa, jangan khawatir, karena peluangnya bisa lebih besar untuk diterima di prodi bedah.

dr. Indah pun memiliki pesan yang selaras dengan yang diungkapkan dr. Satriya. Pesan terpenting dalam menjalani tes PPDS Bedah adalah jujur dalam menjawab pertanyaan wawancara dan tidak melebih-lebihkan. “Tunjukkan tekad saat wawancara bahwa kita berani susah dan ngga cengeng,” pesannya, “karena konsultan bedah akan suka dengan orang yang ‘berniat’”.

Baca juga  Ilmu Kedokteran Nuklir dan Teranostik: Seperti apa?

Jadi gimana menurut temen-temen? Siap daftar PPDS Bedah?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: